Senin, Tanggal 9 Juli 2011
Rambut sudah melebihi kerah baju jadi sudah pasti sering merasa gerah. Disamping itu isteri sudah sering menyarankan agar segera memangkas rambut. Semula inginnya dipermak di jakarta, di kampung dukuh ada tempat potong rambut langganan dengan biaya 10 ribu, tapi dikarenakan tiap jalan menuju kampus selalu membaca papan reklame kecil putih di samping kanan jalan bertuliskan "POTONG RAMBUT AYIS" tanpa disadari kaki berbelok dan masuk ke tempat potong rambut. Tempatnya kecil, cuma ada satu bangku service dan sudah dapat dipastikan pasti cuma satu tukang cukurnya. Setelah duduk, sang tukang cukur segera menghidupkan lampu, kipas angin dan tape. Lagu barat, bob marley dan beberapa lagu klasik barat segera mengalun dan membuat suasana semakin rilex. Sempat kaget dan bertanya-tanya kok bisa tukang cukur menyukai lagu barat.
Tak beberapa lama, si mas sambil memotong rambut melemparkan pertanyaan keakraban, "ambil S2 ya mas?" Mungkin karena muka saya yang sudah kelihatan tua makanya dia bertanya seperti itu dan dengan santai saya jawab "iya". Trus dia tanya lagi, "loh memang dulunya S-1 nya apa dan di mana". Saya jawab santai "Undip Semarang, fakultas hukum". Ternyata pertanyaan itu hanyalah pembuka menuju gerbang kehangatan, dia sangat memahami benar kampus UGM dan bidang ilmu-ilmu ekonomi. Saya semakin penasaran dan ingin bertanya tapi agak ragu, "mas dulu kuliah juga ya". Dia jawab "saya alumnus UGM, sastra sejarah". Oh pantas dalam batinku, "tapi kok jadi tukang cukur, mang ga ingin nyoba kerjaan lainnya". Lalu dia bercerita panjang lebar kalau dia masih kuliah dengan biaya universitas di salah satu STIE di Semarang, ambil Magister Management. Pantas saja saya lihat dibangku antrian ada berkas dengan cover Tesis yang cukup tebal. Saya tanya lagi, "berarti mas ini dosen yang nyambil sebagai tukang cukur ya", eh dia jawab bukan, "Saya tukang cukur yang nyambi sebagai dosen. Saya mengajar diajak dari langganan-langganan saya yang nyukur di sini". Dalam hati saya baru kali ini di cukur oleh candidate master Magister Management. Luar biasa...
Nasib atau takdir siapa yang dapat menentukan bila bukan kalian semua. Seorang alumnus UGM saja dengan amat senang menerima nasibnya sebagai tukang cukur yang dia fahami sebagai satu fase yang harus dilalui. Takdir baginya bukan ketetapan yang bersifat final, karena setiap manusia yang hidup pasti mengalami berbagai macam ketetapan. Setiap ketetapan hanya merupakan sequel panjang kehidupan yang ending nya tidak ada yang tahu. Jadi bagaimanapun final dari suatu takdir adalah misteri, dan karena misteri itulah kita terus berharap dan bersemangat kalau kehidupan esok pasti jauh lebih baik. Jangan pernah under estimate terhadap orang lain atau pekerjaan orang lain. Semua manusia itu selalu menginginkan yang terbaik buat dirinya, yang terindah untuk keluarganya dan orang-orang yang dicintainya. Kalau kalian merasa lebih beruntung, bukan makian, umpatan bahkan cibiran yang keluar dari mulut kalian, tapi ucapan yang penuh sukur, hati yang penuh simpati bahkan empati dan sikap yang mengasihi kepada orang lain yang tidak seberuntung kita. Sejatinya Tuhan menetapkan perbedaan itu untuk menawarkan kepada siapapun agar lebih bermakna.
Rambut sudah melebihi kerah baju jadi sudah pasti sering merasa gerah. Disamping itu isteri sudah sering menyarankan agar segera memangkas rambut. Semula inginnya dipermak di jakarta, di kampung dukuh ada tempat potong rambut langganan dengan biaya 10 ribu, tapi dikarenakan tiap jalan menuju kampus selalu membaca papan reklame kecil putih di samping kanan jalan bertuliskan "POTONG RAMBUT AYIS" tanpa disadari kaki berbelok dan masuk ke tempat potong rambut. Tempatnya kecil, cuma ada satu bangku service dan sudah dapat dipastikan pasti cuma satu tukang cukurnya. Setelah duduk, sang tukang cukur segera menghidupkan lampu, kipas angin dan tape. Lagu barat, bob marley dan beberapa lagu klasik barat segera mengalun dan membuat suasana semakin rilex. Sempat kaget dan bertanya-tanya kok bisa tukang cukur menyukai lagu barat.
Tak beberapa lama, si mas sambil memotong rambut melemparkan pertanyaan keakraban, "ambil S2 ya mas?" Mungkin karena muka saya yang sudah kelihatan tua makanya dia bertanya seperti itu dan dengan santai saya jawab "iya". Trus dia tanya lagi, "loh memang dulunya S-1 nya apa dan di mana". Saya jawab santai "Undip Semarang, fakultas hukum". Ternyata pertanyaan itu hanyalah pembuka menuju gerbang kehangatan, dia sangat memahami benar kampus UGM dan bidang ilmu-ilmu ekonomi. Saya semakin penasaran dan ingin bertanya tapi agak ragu, "mas dulu kuliah juga ya". Dia jawab "saya alumnus UGM, sastra sejarah". Oh pantas dalam batinku, "tapi kok jadi tukang cukur, mang ga ingin nyoba kerjaan lainnya". Lalu dia bercerita panjang lebar kalau dia masih kuliah dengan biaya universitas di salah satu STIE di Semarang, ambil Magister Management. Pantas saja saya lihat dibangku antrian ada berkas dengan cover Tesis yang cukup tebal. Saya tanya lagi, "berarti mas ini dosen yang nyambil sebagai tukang cukur ya", eh dia jawab bukan, "Saya tukang cukur yang nyambi sebagai dosen. Saya mengajar diajak dari langganan-langganan saya yang nyukur di sini". Dalam hati saya baru kali ini di cukur oleh candidate master Magister Management. Luar biasa...
Nasib atau takdir siapa yang dapat menentukan bila bukan kalian semua. Seorang alumnus UGM saja dengan amat senang menerima nasibnya sebagai tukang cukur yang dia fahami sebagai satu fase yang harus dilalui. Takdir baginya bukan ketetapan yang bersifat final, karena setiap manusia yang hidup pasti mengalami berbagai macam ketetapan. Setiap ketetapan hanya merupakan sequel panjang kehidupan yang ending nya tidak ada yang tahu. Jadi bagaimanapun final dari suatu takdir adalah misteri, dan karena misteri itulah kita terus berharap dan bersemangat kalau kehidupan esok pasti jauh lebih baik. Jangan pernah under estimate terhadap orang lain atau pekerjaan orang lain. Semua manusia itu selalu menginginkan yang terbaik buat dirinya, yang terindah untuk keluarganya dan orang-orang yang dicintainya. Kalau kalian merasa lebih beruntung, bukan makian, umpatan bahkan cibiran yang keluar dari mulut kalian, tapi ucapan yang penuh sukur, hati yang penuh simpati bahkan empati dan sikap yang mengasihi kepada orang lain yang tidak seberuntung kita. Sejatinya Tuhan menetapkan perbedaan itu untuk menawarkan kepada siapapun agar lebih bermakna.
Minggu, Juli 10, 2011 |
Category:
My Experience
|
0
komentar




Comments (0)