Saya adalah seorang anak ketiga dari 6 bersaudara pasangan H. Rachmat al-Bantani dan Hj. Nurhamah al-Bantani. Ayah merupakan seorang yang berasal dari keluarga sederhana, keras dan jujur. Banyak nilai positif yang melekat bersamanya terutama dia sangat senang melihat orang lain senang, dan sangat mudah melupakan orang-orang yang pernah menyakitinya. Meskipun dia berasal dari keluarga yang jauh dari pendidikan, tapi usahanya untuk terus belajar terutama ilmu agama melalui majelis ta'lim kecil membuat dia selalu menyempurnakan agamanya dalam bentuk ibadah personal dan juga ibadah sosial. Garis keturunannya hanya sebatas keluarga proletar, miskin dan bersahaja. Dalam usianya yang menjelang 10 tahun pun dia sudah dipaksa mandiri oleh Tuhannya, dan diajarkan merasakan kepahitan dan kemalangan bersama takdirnya selaku seorang buruh tani yang haus figur seorang ayah (Abah Sarda rahimahullah). Bersama takdirnya dia tumbuh dan berkembang menjadi orang yang terjaga dari pergaulan bebas, orang yang terjaga dari perbuatan sia-sia dan dosa, dan orang yang terjaga dari ketergantungan kepada seorang ayah.Ibunya (Ibu Rukiyah rahimahallah) adalah seorang wanita perkasa, taat, tegar dan penuh dedikasi terhadap Sang Pemiliknya. Hari-harinya terisi dengan ibadah-ibadah personal. Dia nenek yang tangguh bagiku, nenek yang sanggup melakukan semua keperluannya sendiri hingga berumur 120 tahun, nenek yang hanya cukup makan 3 suap nasi, nenek yang senantiasa mengisi hari-harinya dengan puasa sunnah daud, nenek yang istiqomah dengan sholat lail dan dhuha-nya, nenek yang masih bisa membaca al-Qur'an dengan kedua matanya, nenek yang masih dapat mengenali seluruh cucunya, nenek yang masih berfikir jauh ke depan dengan meninggalkan warisan hingga cucunya, dan juga nenek yang menyediakan secara sempurna prosesi kematiannya yang berakhir dengan husnul khotimah.
Garis keturunan Mamah sangat bertolak belakang dengan garis keturunan ayah. Mungkin perbedaan itu pula yang pada akhirnya menyatukan mereka. Mamah berasal dari keluarga yang memiliki garis keturunan priyai dan well educated. Dia pernah merasakan nikmatnya sekolah dan belajar agama, meskipun hanya sampai lulus SD. Cara pandang patriarchy masih mengakar sehingga mamah harus iri melihat saudara-saudaranya yang sangat boleh bahkan disuruh untuk dapat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Yang saya dapat amati dari sosok mamah adalah dia seorang yang sangat tekun ketika belajar tapi minat dan semangatnya harus dirampas oleh perspektif yang berkembang pada zamannya. Adalah mamah orang yang tidak ingin mengulang kesalahan dan orang yang ingin mewujudkan mimpinya selaku seorang wanita yang sama di hadapan Tuhan untuk sama-sama berhak menuntut ilmu setinggi-tingginya. Dia, mamah merupakan anak ke 5 dari keturunan pasangan Abah haji Sihabudin dan Tatu Afiyah. Abah adalah seorang keturunan Permas atau yang biasa dipanggil dengan Mas Abudin. Saya sendiri tidak begitu mengetahui perbedaan atau struktur keturunan priyai antara Tu Bagus dan Mas. Simpang siur cerita mengenai masa muda abah membuat saya tidak ingin terlalu jauh mendeskripsikannya, yang saya tahu bahwa Abah pernah mengajarkan saya menghisap daun kawung (pembungkus tembakau untuk di linting menjadi rokok). Saya masih teringat kalau Abah punya seekor anjing yang sangat patuh bernama sadun dan biasa tidur di kolong rumah yang pada waktu itu masih bertipe rumah panggung. Di akhir hayatnya dia dikenal sebagai kiai yang fasih mengajarkan tauhid, terutama sifat dua puluh. Sebelum beliau dipanggil oleh Kekasih-nya, beberapa kiai besar di wilayah Pandeglang pun menyambanginya, mulai dari Bah Haji Andi sampai Bah Haji Daman. Sedangkan nenek adalah seorang yang sangat patuh terhadap suaminya. Rasa cintanya yang teramat besar membuat dia harus merelakan pendidikan umumnya lepas dan tidak termanfaatkan padahal dia pernah mengenyam pendidikan ala Belanda sebagaimana ketururan priyai lainnya. Tidak ada yang saya ingat sekali dari seorang nenek selain wirid yang diberikan kepada saya ketika dirawat di kampung karena tangan saya yang patah. "Allahumma sholli 'ala muhammad wa alihi kama la nihayata likamalika wa adadi kamalih" begitulah redaksi yang biasa saya baca ketika saya mengendarai sepeda motor RX King berwarna biru saya menuju kantor di pagi hari.
Adapun saya adalah seseorang manusia biasa yang merasa tidak mempunyai kelebihan untuk bisa dipersembahkan. Masa TK dan SD saya habiskan di wilayah Kramat Pela Kebayoran Baru.Bersamaan dengan itu, mamah mengajarkan ngaji melalui metode baghdadiah yang memang lebih rumit dan tidak efektif apalagi efisien untuk dapat menguasai dan membaca al-Qur'an dengan tartil. Setelah diajarkan mamah, saya dikirim ke Ustadz Hafadz untuk dikoreksi dan dibenarkan bacaan Qur'annya dan juga sedikit pengetahuan bahasa arab. Kegiatan ini terus berlangsung hingga saya SMP. Masa Remaja saya habiskan di Sekolah Madrasah Aliyah Negeri 4 Pondok Pinang. Pada awalnya saya juga merasa aneh bersekolah di dalam kurikulim yang memadukan ilmu umum yang berkiblat ke Diknas dan ilmu agama yang bermazhab Depag. Rasanya lebih sulit harus memahami ke dua bidang ilmu tersebut dalam waktu yang terbatas. Mungkin sudah menjadi bagian takdirku mengetahi dua hal tersebut. Kebiasaan inipun berlanjut ketika saya kuliah. Adalah fakultas hukum Undip, jurusan ilmu hukum angkatan 1997 pertama kali saya mencicipi status sebagai mahasiswa. Sebenarnya ada ketidakpuasan pada saat itu, kenapa kuliah sangat ringan dan terlalu teoritis. Rasanya akan sia-sia bila cuma kuliah an sich. Pada tahun 1998 saya coba padukan dengan kuliah di Universitas Terbuka, jurusan Administrasi Niaga. Alhamdulillah, hingga blog ini saya tulis, belum juga saya menyandang Sarjana Sosial dari UT. Belajar mandiri itu ternyata lebih berat. Pada tahun yang bersamaan saya pun mengambil kekhususan tartil al-Qur'an dengan metode Qiroati. yang digagas oleh H. Dachlan Salim Zarkasyi, pendiri Yayasan Pendidikan al-Qur'an Semarang. Alhamdulillah saya dapat Syahadah yang bersertifikat pada tahun 2000. Tidak puas, akhirnya pada tahun 1999 saya putuskan untuk mengambil kuliah di Ma'had al-Firdaus. Bunga rampai dan diskursus mengenai Islam saya dapatkan di sana. Sampai semester 6, saya mengambil mata kuliah bahasa arab, yang mengasuh adalah Kiai Muhammad Ajib dari Sayung-Demak. Pada saat itu dia mengantarkan urgensi bahasa arab untuk memahami Islam yang kaffah. Dia mengantarkan ilmu shorof, ilmu yang mempelajari asal-muasal suatu kata. Dalam waktu yang sangat singkat dia berhasil memotifasi saya agar ilmu itu menjadi bagian ilmu yang saya harus pelajar dan pahami. Bagai gayung yang bersambut, ternyata dia menawarkan paket pesantren mahasiswa bernama Pondok Pesantren al-Madinah. Paket itu dirancang dua tahun dengan jaminan dapat membaca kitab kuning (standar kitab-kitab yang diajarkan di Pondok Pesantren Nahdhatul Ulama). Tanpa pikir panjang, saya pun mendaftar bersama sahabat saya Aziz. Di sana pula saya bertemu sahabat saya yang lain, Muhammad Haekal yang kini berprofesi sebagai guru di salah satu SMK di Jepara. Semula saya rancang kalau saya akan lulus Undip pada tahun 2001, tapi karena bahasa arab saya belum selesai, terpaksa saya ulur agar lulus bisa bersamaan. Mulai tahun 2000 saya pun terlibat aktif dalam dunia pendidikan. Mulai dari TPA sampai dengan SMU Islam Terpadu Hidayatullah tempat di mana saya pernah mengabdi. Tahun 2001 saya pun mencari Kiai yang hafal al-Qur'an, pada saat itu saya sangat tertarik untuk bisa menjadi seorang hafidz. Atas saran Mbah Umi, saya dipertemukan dengan Kiai Muslih, salah satu kiai yang mengajar di Nahdhotu as-Subhan (Kebangkitan Pemuda). Dalam waktu kurang dari setahun saya berhasil menyetor sebelas juz al-Qur'an. Sayangnya, saya kurang istiqomah dalam menjaga hafalan tersebut sehingga cita-cita untuk menjadi hafidz al-Qur'an saya revisi sendiri.
Tahun 2002 saya pun berhasil lulus meskipun ditempuh dalam waktu 4 tahun 6 bulan dengan IPK 3.37. Saya cukup puas, karena meskipun relatif lebih lama, saya merasakan lebih berarti dan bermanfaat kehidupan saya di akhir-akhir tugas saya sebagai seorang yang sedang menuntut ilmu. Setelah itu sayapun kembali ke Jakarta untuk mencari kerja. Sambil mencari kerja, saya pun mendaftar diri sebagai mahasiswa jurusan bahasa arab di Ma'had Utsman bin Affan, Bambu Apus Jakarta Timur. Alhamdulillah, berbekal pengetahuan dari Ponpen al-Madinah saya boleh langsung masuk mustawa tsani (semester kedua) tanpa harus mengulang dari dasar. Seluruh biaya kuliah, mulai dari biaya semester, uang pangkal, uang gedung, buku, diktat dan seluruh fasilitas free of charge. Saya pun akhirnya mendapatkan pengalaman belajar bahasa arab dengan kurikulum modern, silsilah Abu Suud. Pada tahun yang bersamaan juga saya sibuk mencari kuliah, karena mamah sangat mendukung saya untuk lanjut S2. Saya pun bertemu Bu Lis, salah satu konsultan pendidikan yang bekerja di kedutaan Malaysia. Proposal tesis yang saya buat pun bersambut dengan letter of acceptance dari Universitas Kebangsaan Malaysia, fakultas Politik dan Hubungan Internatioanal. Sayangnya, sebelum surat penerimaan itu saya terima, PSTTI UI, Program Pasca Sarjana dengan konsentrasi Politik dan Hubungan International khusus Timur Tengah telah terlebih dahulu menerima saya. Pertimbangan orang tua agar saya mengambil UI nya saja. Tanpa berfikir panjang, kuliah double menjadi suatu hal yang biasa bagi saya. Pagi hingga petang saya ada di Ma'had Utsman bin Affan, sedangkan petang hingga malam saya ada di Salemba UI. Alhamdulillah keduanya tamat, dan saya menjadi yang terbaik di jurusan UI saya dengan IPK 3.73. Angka yang lucu, S-1 3.37 sedangkan S-2 cuma dibalik 3.73. Sama halnya dengan tahun kelahiran saya 79 dan angkatan SMA saya 97.
Setelah lulus, pada tahun 2005 saya segera mencari kerja, karena saya tahu kondisi ekonomi orang tua saya sudah mulai menurun, padahal di bawah saya masih ada 3 orang adik yang sangat berhak menikmati pendidikan seperti saya. Kebetulan teman UI saya, Sutrisno Muslimin menawarkan saya untuk bergabung di International Islamic Boarding School of Cikarang, Indonesia dengan syarat bila lulus test. Pada hari yang ditentukan saya pun di test, mulai dari Psikotest, TPA, Pengetahuan ke-Islaman, Interview Bahasa Asing mulai dari Bahasa Inggris di test oleh Dr. Safril hingga Bahasa Arab di test oleh Ust. Hasan MA (mereka berdua lulusan Universitas Antar Bangsa). Terakhir saya diuji hafalan al-Qur'an, sekitar 4 juz dibaca secara acak. Alhamdulillah, semua dapat saya lanjutkan. Seminggu berikutnya, akhirnya saya pun dinyatakan lulus. dan mulailah saya mengajar walaupun hanya sebatas guru asrama tapi sangat memungkinkan untuk menjadi guru tetap di sana. Entahlah, kenapa saya tidak kerasan. Mungkin juga dorongan ingin segera nikah. Padahal untuk meningkatkan kompetensi saya, IIBS sangatlah menunjang. Di sekolah tersebut pun saya mendapatkan kursus bahasa inggris oleh Mr. Ramy. Tahun 2005 akhir saya mencoba mencari kerja kembali, PNS menjadi salah satu incaran saya. Calon isteri menginginkan saya agar menjadi salah seorang PNS. Saya pun mencoba mendaftar di BPPT. Ternyata berhasil. Semula saya pikir, BPPT seperti LIPI dan sayapun bisa berkiprah dalam bidang penelitan hukum, ternyata jauh di luar itu semua. Saya diterima dan ditempatkan di Inspektorat. Maka jadilah saya sebagai candidat auditor internal. Mungkin inipun menjadi bagian takdir saya. Masih ada ketidakpuasan, jalan masih membentang. Perlu diketahui kalau saya cuma ingin menjadi diplomat atau dosen di negeri yang cukup aneh ini. Dan obsesi itupun belum juga saya raih hingga status single saya berganti menjadi telah menikah dengan Luluk Arifatul Khorida, wanita yang menjadi bagian takdir saya mulai dinyatakan sah pada hari sabtu tertanggal 25 Okotber 2008.
Adalah rida atau luluk dia biasa dipanggil oleh teman-temannya, sedangkan saya diminta untuk memberikan panggilan yang khusus buatnya. Jujur, hingga detik ini saya belum menemukan nama yang cocok baginya. Mungkin karena saya kurang romantis, atau kurang kreatif. Paling jauh, saya menyebut dia "mutiara" dan itupun hanya sebatas tulisan yang tidak pernah berkembang menjadi lisan apalagi panggilan. Garis keturunannya berasal dari keluarga Mangkang dan keluarga Genuk. Sebenarnya antara kedua keluarga itu terdapat perbedaan yang sangat mendasar, ada kesan bertolak belakang. Mangkang lebih teratur, terstruktur, mapan dan modern. Kebanyakan bekerja di sektor formal-mapan-dan pro pemerintah. Karakter berfikirnya linier dan hidupnya lebih menyukai hal-hal yang bersifat rutin dan terkendali. Sedangkan keluarga Genuk sebaliknya, tidak hanya mandiri tapi terlahir sebagaimana manusia bebas. Kehidupan ekonominya dibangun tidak dari menyodorkan dan menjual ijazah melainkan membangun dan membuka lapangan pekerjaan. Suara politiknya tidak dapat ditentukan oleh siapapun dan apapun. Keberpihakan mereka dikendalikan oleh hati nurani yang berkembang bersama mereka. Ayahnya, Musthofa Kamal, biasa dipanggil Abah oleh anak-anaknya dan Mas To oleh adik-adiknya berasal dari keluarga Mangkang, seorang karyawan Bulog humoris, jujur dan suka pekerjaan rutin. Sebaliknya ibunya, Umi Faizah al-Hafidzhoh adalah seorang wiraswasta, penjual pakaian di Pasar Genuk. Seorang yang jujur, ulet, dinamis dan bebas. Kedua karakter itu saya jumpai di isteri saya, seorang lulusan Sastra Inggris Unnes yang sepertinya bakat sastranya masih perlu dikembangkan. Dia tumbuh dan berkembang dengan kemandirian dan kejujuran, disamping sifatnya yang agak ceroboh dan tidak fokus. Pendidikan tingkat menengahnya dia jalani di salah satu pondok pesantren salafiyah, Tambak Beras-Jombang. Kemudian dilanjutkan ke Pondok Pesantren Modern Gontor, sayang cuma sampai kelas 4 dari 6 kelas yang harus dijalani. Setidak-tidaknya dia telah memahami metode salafiyah dan modern. Cita-cita dan obsesinya sangat pro dengan orang-orang yang dicintainya. Dia ingin menjadi diplomat karena suaminya, dia ingin meng-umrohkan ke empat orang tuanya, ingin mang-hajikan paman dan bibinya, ingin menyekolahkan saudara-saudaranya, ingin membangun Toko seperti Pans untuk uminya, ingin memberikan uang pensiun untuk Abahnya, dan yang menggelitik adalah dia pun ingin YARIS, menjadi mobilnya. Amin Ya Robbal 'Alamin...
Minggu, Mei 02, 2010 |
Category: |



