Sore kemarin, selasa tanggal 21 Juni 2011 saya mulai packing dan bersiap-siap untuk kembali ke jogja. Hal itu menjadi harus karena rabu jam 10.00 saya harus mengikuti mata kuliah financial accounting yang diampu oleh Ibu Wiwin. Beberapa buku yang semula saya bawa dengan niat untuk dibaca di Semarang selalu kandas, selalu saja kalau sudah sampai rumah, saya merasa saatnya instirahat dan leyeh-leyeh. Berlalulah tiga hari dua malam di rumah mertua tanpa ada penambahan literatur. Biasanya kami berdiskusi dan ngobrol ngalor ngidul, terutama dengan umi yang suka sekali kajian Islam dan dinamikanya sedangkan abah sesekali berbicara tentang pengalaman kantornya dan kebanggaan dirinya kalau beliau sekarang jadi ketua raskin padahal menjelang pensiun, he he he. Yang luar biasa dari mereka adalah setiap jam 3 subuh atau maksimal jam 3.30 subuh saya selalu mendengar mereka tengah sibuk di ruang sholat dengan aktivitas ritualnya, sholat tahajud bersama. Setelah itu mereka ambil posisinya masing-masing, umi meneruskan dengan muroja'ah hafalan qur'annya yang 30 juz, sedangkan abah men dawam kan surat yasin dan beberapa surat-surat pendek di luar kepala. Mereka telah menjelma menjadi makhluk spiritual, kata umi "malu sudah dikasih nikmat yang banyak kok malah minta terus, disukuri aja masih tidak sanggup". Kalau saya sih belum mampu seperti mereka, tapi saya ingin bisa seperti mereka. Saya baru bisa konsisten dengan agenda saya untuk mengunjungi saudara yang lahiran, lala dengan anak kembarnya, dan melepas kangen dengan keluarga genuk sudah saya penuhi. Jadi saya tidak merasa terlalu menyesal.

Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, sudah tidak boleh ditunda lagi, segera saya masukkan text book ke tas saya, disusul dengan beberapa pakaian kotor (sengaja biar tidak ngerepotin mertua), kemudian gadget gadget kecil dan yang terakhir laptop. Rasanya sudah semua masuk tas, tinggal berangkat. Sebagaimana biasanya, sore hari umi masih di warung, depan pasar genuk dan saya harus berpamitan kepadanya. Kunci motor, STNK naufal sudah saya kembalikan, kunci rumah juga sudah saya serahkan, ketika saya mau salim istilah untuk cium tangan, dia selalu menjawab "tunggu sebentar man", lalu dia menuju toko klontong adiknya, mbak jazil, mengambil beberapa barang dan dimasukkan ke dalam kantong plastik hitam.

dan isinya selalu sama, berisi (a) beberapa minuman, (b) wafer dan (3) yang lucu selalu ada tambahan 2 buah taro. Mungkin saya dikira Habib yang masih doyan chiki-chiki-an. Namanya juga pemberian orang, ketika kita menerima dan bermuka antusias, pasti yang memberi sangat senang. Menyenangkan orangkan bagian dari ibadah. Hasilnya setiap pulang selalu saja ada kantong plastik hitam berisi:


Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, sudah tidak boleh ditunda lagi, segera saya masukkan text book ke tas saya, disusul dengan beberapa pakaian kotor (sengaja biar tidak ngerepotin mertua), kemudian gadget gadget kecil dan yang terakhir laptop. Rasanya sudah semua masuk tas, tinggal berangkat. Sebagaimana biasanya, sore hari umi masih di warung, depan pasar genuk dan saya harus berpamitan kepadanya. Kunci motor, STNK naufal sudah saya kembalikan, kunci rumah juga sudah saya serahkan, ketika saya mau salim istilah untuk cium tangan, dia selalu menjawab "tunggu sebentar man", lalu dia menuju toko klontong adiknya, mbak jazil, mengambil beberapa barang dan dimasukkan ke dalam kantong plastik hitam.

dan isinya selalu sama, berisi (a) beberapa minuman, (b) wafer dan (3) yang lucu selalu ada tambahan 2 buah taro. Mungkin saya dikira Habib yang masih doyan chiki-chiki-an. Namanya juga pemberian orang, ketika kita menerima dan bermuka antusias, pasti yang memberi sangat senang. Menyenangkan orangkan bagian dari ibadah. Hasilnya setiap pulang selalu saja ada kantong plastik hitam berisi:

Mau????
Selasa, Juni 21, 2011 |
Category:
My Experience
|
0
komentar




