Laron...
mengapa dirimu kerap datang ketika hujan menjelang
mengapa dirimu menghampiri lentera-lentara dan menutupi cahayanya
apakah kau mencari cahaya atau kau ingin bertemu inti cahaya
mana yang lebih kau rindu bersama cahaya sejenak dan dirimu sulit menjejak
ataukah bersatu bersama inti cahaya dan dirimu pun lenyap

Begitu cepatnya kau mengepakkan sayap
hanya untuk sekedar bertahan dibarisan terdepan dalam dekapan cahaya
berhimpitan...berdesakan hingga sayapmu pun patah
satu demi satu berjatuhan, berserakan
dan kau pun terjerembab jatuh menuju tanah
tidakkah kau menyesal wahai sang pencari cahaya...

tidak...
Hamba tidak pernah menyesal
usaha hamba telah maksimal dipenghujung senja
hamba tahu bahwa hidup hamba hanya sebatas hujan
hamba tahu kemana harus berlabuh dan menetap
hamba sudah bertemu Sang Pemilik Cahaya kehidupan
bersamanya hamba berlabuh menuju kedamaian

bila al-Quran adalah cahaya kehidupanmu
maka jangan kau tinggalkan
bila orang-orang solih adalah pantulan dari Inti Cahaya
maka jangan kau sia-siakan

Mereka adalah pintu gerbang menuju Inti Cahaya
Inti Cahaya yang kita idam-idamkan
untuk larut dan melebur bersamanya
dalam kehdidupan setelah kematian
Senin, Tanggal 9 Juli 2011
Rambut sudah melebihi kerah baju jadi sudah pasti sering merasa gerah. Disamping itu isteri sudah sering menyarankan agar segera memangkas rambut. Semula inginnya dipermak di jakarta, di kampung dukuh ada tempat potong rambut langganan dengan biaya 10 ribu, tapi dikarenakan tiap jalan menuju kampus selalu membaca papan reklame kecil putih di samping kanan jalan bertuliskan "POTONG RAMBUT AYIS" tanpa disadari kaki berbelok dan masuk ke tempat potong rambut. Tempatnya kecil, cuma ada satu bangku service dan sudah dapat dipastikan pasti cuma satu tukang cukurnya. Setelah duduk, sang tukang cukur segera menghidupkan lampu, kipas angin dan tape. Lagu barat, bob marley dan beberapa lagu klasik barat segera mengalun dan membuat suasana semakin rilex. Sempat kaget dan bertanya-tanya kok bisa tukang cukur menyukai lagu barat.

Tak beberapa lama, si mas sambil memotong rambut melemparkan pertanyaan keakraban, "ambil S2 ya mas?" Mungkin karena muka saya yang sudah kelihatan tua makanya dia bertanya seperti itu dan dengan santai saya jawab "iya". Trus dia tanya lagi, "loh memang dulunya S-1 nya apa dan di mana". Saya jawab santai "Undip Semarang, fakultas hukum". Ternyata pertanyaan itu hanyalah pembuka menuju gerbang kehangatan, dia sangat memahami benar kampus UGM dan bidang ilmu-ilmu ekonomi. Saya semakin penasaran dan ingin bertanya tapi agak ragu, "mas dulu kuliah juga ya". Dia jawab "saya alumnus UGM, sastra sejarah". Oh pantas dalam batinku, "tapi kok jadi tukang cukur, mang ga ingin nyoba kerjaan lainnya". Lalu dia bercerita panjang lebar kalau dia masih kuliah dengan biaya universitas di salah satu STIE di Semarang, ambil Magister Management. Pantas saja saya lihat dibangku antrian ada berkas dengan cover Tesis yang cukup tebal. Saya tanya lagi, "berarti mas ini dosen yang nyambil sebagai tukang cukur ya", eh dia jawab bukan, "Saya tukang cukur yang nyambi sebagai dosen. Saya mengajar diajak dari langganan-langganan saya yang nyukur di sini". Dalam hati saya baru kali ini di cukur oleh candidate master Magister Management. Luar biasa...

Nasib atau takdir siapa yang dapat menentukan bila bukan kalian semua. Seorang alumnus UGM saja dengan amat senang menerima nasibnya sebagai tukang cukur yang dia fahami sebagai satu fase yang harus dilalui. Takdir baginya bukan ketetapan yang bersifat final, karena setiap manusia yang hidup pasti mengalami berbagai macam ketetapan. Setiap ketetapan hanya merupakan sequel panjang kehidupan yang ending nya tidak ada yang tahu. Jadi bagaimanapun final dari suatu takdir adalah misteri, dan karena misteri itulah kita terus berharap dan bersemangat kalau kehidupan esok pasti jauh lebih baik. Jangan pernah under estimate terhadap orang lain atau pekerjaan orang lain. Semua manusia itu selalu menginginkan yang terbaik buat dirinya, yang terindah untuk keluarganya dan orang-orang yang dicintainya. Kalau kalian merasa lebih beruntung, bukan makian, umpatan bahkan cibiran yang keluar dari mulut kalian, tapi ucapan yang penuh sukur, hati yang penuh simpati bahkan empati dan sikap yang mengasihi kepada orang lain yang tidak seberuntung kita. Sejatinya Tuhan menetapkan perbedaan itu untuk menawarkan kepada siapapun agar lebih bermakna.
Bila kita mau meluangkan sedikit saja waktu dan iseng melihat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia, maka tiga komponen besar selalu ada menyertainya, yaitu: (1) Pos Penerimaan, (2) Pos Pengeluaran, dan (3) Pos Pembiayaan. Dari ketiga pos tersebut saya yakin dua pos sudah sangat jelas tanpa perlu penjabaran yang lebih rinci, mungkin yang mengganjal di mata dan memicu pertanyaan adalah adanya Pos Pembiayaan. Kok bisa sih pos ini muncul dalam APBN negara Indonesia. Ternyata pos pembiayaan muncul dikarenakan lebih besarnya pos pengeluaran dibandingkan pos penerimaan. Dengan demikian, mau tidak mau, suka tidak suka, nerima tidak nerima, itu adalah kenyataan yang harus diterima. Penerimaan yang didapat dari sektor pajak dan non pajak (khususnya penerimaan migas) tidak dapat menutupi seluruh biaya yang dibutuhkan. Manajemen keuangan di Indonesia selalu kandas dengan menambah hutang. Tahun demi tahun, periode demi periode, presiden demi presiden, semuanya sama dan berobesesi menambah hutang negara. Kenapa negeri ini harus dikelola mengikuti pepatah "lebih besar pasak daripada tiang". Ironi sekali setiap tahun selalu gali lobang tutup lobang untuk bayar hutang. Dahulu senang sekali dengan pinjaman luar negeri dengan dalih pinjaman lunak, bunga kecil, dan masa cicilan panjang. IMF, Bank Dunia, IDB sudah pernah dicoba, tapi apa yang didapat, beban hutang dan bunga semakin besar. Sudah bosan dengan pinjaman luar, beralih ke pinjaman dalam, mulai dari ORI, sukuk (alias surat utang negara), lagi-lagi negeri ini dibangun dari pinjaman. Alih-alih lebih baik pinjaman dalam negeri agar pembayaran cicilan dan bunga hanya jatuh dan beredar di Indonesia, BI malah sebaliknya mengumumkan kekhawatirannya kalau uang yang masuk ke bank sudah semakin banyak dan sebaliknya sektor produksi yang riel tidak berjalan. Bayangkan gundukan uang yang berada di BI dan institusi perbankan lainnya melebihi kapasitas sebaliknya masyarakat dan sektor produksi lainnya malah enggan memutar uang dalam perekonomian riel. Kalau sudah terjadi situasi dan kondisi tersebut, maka pahlawan yang sangat tepat zaman ini adalah Melinda Dee. Biar saja orang dan badan usaha yang kaya takut menyimpan uangnya di bank dan lebih memilih memutar uangnya dalam sektor riel.

Ada yang salah dalam negeri ini. Negeri yang boros, bangsa yang tamak dan tidak pernah merasa cukup. Kenapa pemerintah ini tidak ingin menabung, kenapa pemimpinnya gemar sekali berutang, kenapa rakyatnya tidak produktif. Untuk apa kastil-kastil megah di bangun di pusat kota kalau ternyata pembiayaannya dari hutang, untuk apa wajib belajar 9 tahun bila ternyata harus membayar dengan dalih Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI), dan untuk apa pelayanan kesehatan bagi rakyat miskin bila ternyata definisi miskin menjadi sangat sulit dipenuhi. Hampir semua presiden berkampanye dengan isu wajib belajar 9 tahun, fasilitas kesehatan bagi rakyat miskin, bantuan lansung tunai. Jelas isu-isu tersebut sangat menyentuh rakyat yang notabene nya sudah sangat miskin. Tapi kemiskinan rakyat terjadi karena negaranya yang miskin. Negara yang tidak punya tabungan. Negeri yang sarat dengan hutang. Apakah pernah ada presiden yang berkampanye dengan program melunaskan pinjaman atau minimal mengurangi pinjaman dan bunga. Pasti jawabannya belum kan. Yah mungkin karena setali tiga uang dengan sistem politik pemicu hutang. Partai-partai yang tidak punya badan usaha selalu kebingungan ketika sudah mendekati masa-masa kampanye. Uang dari mana untuk memenangkan pemilu nanti. Maka tidak heran kalau partai-partai besar selalu minta jatah departemen besar dan strategis. Semua rakyat Indonesia sudah sangat maklum kalau departemen yang dipilih oleh partai besar adalah departemen yang punya APBN besar. Maka tidak aneh juga kalau pos pengeluaran selalu lebih besar, karena masing-masing departemen berlomba membuat anggaran yang sangat besar tanpa harus peduli dengan penerimaan negara. Ujung-ujungnya perampokan uang negara demi memenangkan kursi legislatif dan presiden dari partainya. Seperti lingkaran setan yang sulit diputus, pos pembiayaan sangat sulit dihapuskan.

Sedikit pesan dari saya...
Kalau pendapatan negeri ini tidak banyak, cobalah hidup dan ajarkan kepada kami kehidupan berkesehajaan. Belajar merasa cukup dengan apa yang didapatkan. Saya yakin kita sebenarnya siap untuk hidup bersahaja, tinggal Anda selaku pemimpin memandu kami menuju kehidupan yang bebas dari lilitan hutang. Mulailah bermimpi meninggalkan warisan kepada generasi mendatang, jangan takut dengan obsesi merubah pos pembiayaan menjadi pos tabungan negara. Rasanya kita semua bertanggung jawab untuk memberikan kehidupan yang lebih baik untuk generasi mendatang bukan.
Hari Jumat, tanggal 1 Juli 2011
Seharusnya sejak kemarin saya sudah kembali ke Jogja, tapi untuk berangkat ke stasiun atau cek ketersediaan tiket perjalanan ke Jogja selalu membutuhkan effort yang luar biasa. Ada rasa malas, hampa, atau bahkan sedih ketika harus meninggalkan Jakarta. Mungkin masalah ini hanya terjadi bagi diri saya sendiri selaku orang yang selalu ingin dekat di tengah-tengah keluarga. Di Jakarta saya lihat kedua orang tua saya yang sudah mulai rapuh tapi masih tetap harus bekerja karena kecintaannya pada keluarganya, di Jakarta saya melihat isteri saya yang sangat sibuk dengan tugas-tugasnya selaku customer service di sebuah perbankan syariah, di Jakarta saya juga mengetahui kalau isteri saya akan tinggal sendiri di rumah karena Siti akan kembali ke Lampung. Rasaya menunda satu hari atau beberapa hari layak dikorbankan untuk kepuasan batinku. Meskipun yang saya rasakan justru sebaliknya, semakin lama saya berdiam di Jakarta semakin hampa yang kurasa. Beberapa text book yang sengaja saya bawa dari Jogja pun tidak tersentuh.

Jumat pagi jam 05.00 saya bergegas mandi dan sholat. Sejak kemarin saya sudah beritahu isteri kalau saya harus diantar lebih pagi ke Stasiun Senen karena harus antri tiket penjualan langsung yang mungkin masih bisa mendapatkan tempat duduk. Tapi dari mulai bangun yang jam 05.00 saya mengetahi kalau sayapun masih malas untuk kembali ke Jogja. Tambah lagi isteri yang harus make up terlebih dahulu, sampailah pada jam 05.30 masih di rumah, padahal jarak waktu antara rumah dan stasiun senen sekitar 45 menit. Motor belum dipanaskan, belum pamitan juga ma ortu dan belum sarapan juga. Rasanya kacau, dari rumah sudah mulai merasa tidak nyaman. Jam 05.45 motor saya pacu, berusaha secepat mungkin dan berhasil sampai stasiun tepat pukul 06.35. Segera saya antri tiket dan di depan loket tiket ada tulisan pengumuman yang bertulisakan "tiket tanpa tempat duduk". O..o..., langsung lemes deh. Seharusnya saya sudah mengetahui sejak awal konsekuensi ini, tapi kenapa juga saya tidak segera merima. Dengan berat hati saya beli tiket tanpa tempat duduk tersebut dan membeli koran untuk antisipasi duduk di border kereta. Jadi inget masa kuliah di fakultas hukum sekitar 14 tahun silam. Dulu saya tidak peduli dapat tiket atau tidak dapat tiket, dapat tempat duduk atau tidak dapat tempat duduk, ga ada kamus harus ngantri tiket jauh-jauh hari sebelum hari H, yang penting beli koran untuk tidur di sela-sela bangku, itu sudah sangat nikmat. Tapi kenikmatan itu tidak bisa saya rasakan sekarang. Mungkin kendala terbesar orang yang terbiasa hidup enak adalah merasakan kesusahan dan kepayahan, atau mungkin saya sekarang menjadi orang yang kurang sabar dan berserah atau bahkan sekarang saya menjelma menjadi orang yang sulit menerima kenyataan dan berada dalam kehidupan sempurnanya keinginan. Astaghfirullah...

Saya melihat Stasiun Senen yang padat dengan travelers. Hal itu sangat wajar, bulan Juli kan bulan liburan siswa SD s.d mahasiswa Perguruan Tinggi. Saya ikut mengantri dan berdesakan memasuki kereta. Dari kejauhan saya melihat beberapa orang yang membeli tiker, mungkin nasibnya sama seperti saya dan ternyata benar. Mereka orang-orang yang tidak mendapatkan tempat duduk. Setelah menaruh tas, dan menggelar tiker di border, kami langsung duduk di atas tiker tersebut. Mudahnya saya duduk di atas tiker spontan membuat saya ingat pada satu hal, HP Samsung SGH i780 yang saya taruh di saku celana depan saya. Harusnya ketika duduk ada yang terasa mengganjal, ini sepertinya tidak ada, langsung saya periksa seluruh saku celana saya, dan ternyata memang HP saya sudah berpindah tangan. Baru kali ini saya tidak merasakan sama sekali kalau diri saya di copet, biasanya baru melihat muka saja saya sudah bisa merasakan orang-orang yang punya niat tidak baik alias copet. Delapan jam di kereta tanpa alat komunikasi rasanya berat, mungkin saya termasuk orang yang sudah kecanduan HP dan ini merupakan teguran dari Allah.



Selamat tinggal HP Samsung SGH i780, selamat jalan Pocket PC. Semoga di pengguna mu yang baru kau lebih dioptimalkan...