Hari Rabu, tanggal 20 Oktober 2010, jam 07.10

Pada jam itu, sebagaimana biasa, saya sedang mengantarkan isteri menuju Bank Syariah Mandiri di Kantor Cabang Pembantu - Harmoni, tepatnya Gajah Mada. Setelah melewati Jalan Medan Meredeka Barat, tepatnya dilampu merah perdelapan menuju gajah mada (lihat peta)



ban motor mulai dirasakan kurang enak, dan isteripun merasakan hal yang sama, ternyata ban belakang motor kempes, mana berada ditengah jalan lagi. Sesegera mungkin kita menepi, dan menggiring motor berjalan mencari bengkel tambal ban. dalam radius 500 meter, tidak dijumpai tukang tambal ban satupun, padahal keringat sudah mulai mengucur. Tepat di bawah tangga penyebrangan bus way, ada seorang pemuda memanggil dan menawarkan jasa tambal ban. Saya yang posisinya sudah terengah-tengah, tanpa berfikir panjang langsung meng-iyakan. tawar menawarpun terjadi, tapi karena posisinya kalah, akhirnya kitapun sepakat dengan harga Rp. 7000. Setelah dibuka dia memperlihatkan ada 2 lubang yang cukup besar, dan masih ada sebuah paku yang menempel di ban belakang. saya cuma mengangguk-angguk. Tak lama dari itu, ada seorang lagi, sepertinya dari cara dia mendorong motornya, nasibnya tidak jauh dari saya. benar saja. bannya bocor, dan paku yang menempelpun ukurannya sama. Selama proses dia menambal ban saya, ada 7 motor yang nasibnya sama hanya dalam waktu 7 menit-an. Sesama korban ban bocor, akhirnya kita diskusi dan saling curiga kalau tukang tambal ban motor kita adalah sang penebar paku. Setelah selesai, saya pun memberi dia Rp. 7000. tapi, secara spontan dia bilang kurang, kan 2 lubang mas. jadi Rp. 14.000. Alamaaaaaaaak......

Bahan Renungan

Asumsi pertama, husnudhon style, sang penambal sangat baik hati dan fair. saya aja yang tidak mengerti dunia tambal ban kalau tambal itu memang per/lubang. Jadi Rp. 14.000 adalah harga yang wajar dan dia sangat membantu. daripada harus terengah-tengah nyari tambal ban di daerah jalan protokol seperti itu, pasti sudah gempor sebelum menemukan tukang tambalnya.

Asumsi kedua, suudhon syle, sang penambal adalah sang penebar paku. itupun masih saya beri apresiasi yang cukup. sang penjebak adalah sang pemberi solusi. toh dia sudah berpayah-payah menebarkan paku, menunggu korban, membetulkan ban korban, cuma harus rela merogoh kocek dan diliputi keadaan bahaya karena motor tiba-tiba oleng kehilangan keseimbangan. sekarang banyak sekali produk-produk yang kita nikmati tidak hanya menjebak dan membuat ketagihan, tapi juga tidak memberikan jalan keluar, atau kalaupun ada dipersulit. Marketing selalu ditarget tinggi, walhasil akhirnya banyak sekali penipuan yang dibungkus dengan produk/jasa. Coba deh direnungkan, produk-produk sekarang memang dikemas dengan strategi hampir tertutup jalan keluar setelah kita masuk.
Dipenghujung juni, 2010 sayup-sayup azan maghrib terdengar begitu indah. kala itu saya masih mengendarai motor rx king biru pemberian ayah 6 tahun yang lalu. bulan itu pula motor itu berkeluh kesah kepada saya tentang ban nya yang tidak lagi mulus ketika harus berjalan, tentang rem nya yang tidak lagi pakem ketika mengerem, tentang mesinnya yang tidak lagi halus ketika hidup. saya sadar dan benar-benar sadar, dia adalah mesin yang setia menemani saya mulai dari kali pertama kuliah S-2 di Pascasarjana UI hingga saya terdampar dalam di BPPT. mungkin dia ingin menyampaikan kalau dirinya ingin beristirahat. sayang suara itu terlalu kecil, bahkan mungkin terlalu lirih hingga tak terdengar. kalaupun sampai terdengar, saya pun belum sanggup untuk membeli penggantinya. saya cukup bersukur dengan apapun yang diberikan Allah. semua saya anggap sebagai titipan, maka motor itupun saya perbaiki, hingga dia berjalan nampak lebih bugar meskipun tidak sesehat kali pertama membeli.

adzan maghrib selesai berkumandang, nampak di depan saya ada sebuah bajaj yang berhenti di sebuah taman pakubuwono, saya tidak ambil pusing untuk itu, saya hanya ingin bergegas sampai rumah, istrirahat, sholat maghrib, dan membaca beberapa lembar ayat suci. ketika motor saya tepat berada di samping bajaj tersebut, suatu yang saya tidak harapkan muncul. bajaj tersebut tiba-tiba berbelok ke samping kanan padahal pada saat yang bersamaan saya pun berada persis di sejajar bajaj tersebut. akal saya bekerja demikian cepatnya dan berfikir apa yang akan terjadi nanti. jatuh dari motor merupakan konsekuensi logis dari benturan tersebut. dan...benar saja. saya langsung terjerembab ke aspal, helm saya mental hingga ke seberang dan berhenti tepat di depan pengendara bermotor. saya ingin bertanya pada anda, apakah benturan yang tidak saya harapkan merupakan suatu kebetulan, atau suatu kesengajaan. saya tidak memimpikan apalagi mengharapkan sebuah kemalangan. dan saya yakin semua manusia yang mengalami kemalangan di dunia ini tidak mengharapkan dirinya dalam kemalangan. lalu apa yang diharapkan dari orang yang mengalami kemalangan, pertolongan dan pengorbanan dari sesama. yap...kita lanjutkan cerita ini, helm itu dapat menghentikan salah satu kendaraan bermotor. saya bangkit dan lihat kalau tangan saya tidak normal lagi, ada pergeseran engsel. sakit, bengkak, kaku menyertainya. saya tidak melakukan sumpah serapah tatkala supir bajaj itu memacu bajajnya dan berlari meninggalkan saya tanpa memberi sedikit senyuman. saya lupakan bajaj dan supirnya, saya fokus kepada seorang pemuda yang baik hati dan berhenti untuk saya. dia sandarkan motornya, dan bergegas berlari ke arah saya. bensin sudah mulai tumpah ruah di jalan, saya khawatir dan sangat kalau saja terjadi kebakaran. lalu saya spontan meminta tolong agar motor saya dibangunkan. tanpa berucap sepatah katapun, dia segera melakukan apa yang saya ucapkan. setelah motor di standarkan, dia bergegas ke arah saya kembali, dan membopong saya untuk menepi. mungkin kaget atau sedikit shock sampai saya seperti tak kuasa untuk melangkah dan harus di papah. saya ingin bertanya pada anda, siapa yang dapat menggerakkan hati seseorang sehingga demikian tulus membantu hanya karena Allah, Dzat Yang Maha Menggerakkan Hati Nurani

sampai ditepian, saya mulai tersadar dan memeriksa pakaian yang saya kenakan, ternyata mulai dari jaket dan batik tidak ada yang terkoyak sedikitpun. hanya celana saja yang tanpak compang camping. saya mulai menghirup udara malam yang mulai menusuk paru-paru saya. pemuda itu bertanya pada saya, apa yang sakit mas? lalu saya perlihatkan kalau tangan kanan saya mulai bengkak dan engselnya bergeser. lalu dia minta saya menunggu sebentar, dia pergi sebentar untuk membelikan saya sebotol aqua. sungguh luar biasa...kepedulian, empathy, jiwanya begitu cerdas. sebotol aqua tersebut bak oase untuk saya yang dirundung malang. lalu dia berpesan kepada saya agar tidak melakukan sumpah serapah kepada supir bajaj tersebut, kasihan supir tersebut kalau sampai doa mas dikabulkan. dia yakin kalau supir bajaj tersebut pun tidak bermaksud mencelakakan orang lain. mereka orang kecil, orang susah. mereka hanya coba bertahan hidup dengan tidak mengambil kehidupan dari orang lain. berusahalah sekarang ingat Allah mas, Allah akan begitu dekat kepada orang-orang yang malang, orang-orang yang tidak ada pelindng selain Allah yang Maha Melindungi. ucapannya seakan menyentak saya, apakah selama ini saya telah melupakan Allah yang segalanya kehidupan akan kembali, yang segalanya tempat bergantung, yang segalanya sumber kekuatan itu berasal. maka kalimat:"astaghfirullahal adhim" begitu deras keluar dari mulut ini. apakah saya orang yang telah dibutakan dengan dunia dan seisinya padahal semua hanya tipu daya dan sementara. apakah saya telah melupakan tugas sebagaimana amanah yang telah Dia titipkan. semua manusia tercipta dalam keunikannya masing-masing. bukan kemauan manusia untuk itu, tapi Allahlah yang menginginkan. Dia ingin agar semua manusia hidup penuh nilai, arti dan makna. hanya manusia yang tidak mempunya hati dan jiwa saya yang tidak dapat merasakan tugasnya. pemuda itu memberikan saya wasiat, dari ini mas pasti akan semakin dekat kepada Allah, jangan lupakan sholat. mungkin pesan ini lebih tepat jangan lupakan sholat berjama'ah di masjid, dan sholat-sholat sunah.

lalu saya mencoba menghubungi hilman, adik saya agar segera menjemput saya di taman pakubuwono, saya pun tak lupa menghubungi mamah tapi saya tidak menghubungi istri saya. biarlah dia tidak mengetahui, biarlah dia lebih tenang. saya tidak ingin berbagi duka. tak lama dari itu saudara-saudara saya sampai dan menjemput saya dengan 3 motor. lalu saya tanyakan nama pemuda itu, dia bernama Rony. sosok pemuda yang punya kepedulian luar biasa, ada emphati dan nilai-nilai sosial yang agung. mungkin sosok seperti ini sudah sangat langka, tiada yang dapat aku nafikan dari anugerah yang begitu indah. sesampai di rumah, orang tua sudah menanti saya, dan bersegera untuk mengantarkan saya ke rumah H.Naim, tempat pengobatan alternatif yang memang sudah punya nama besar dalam urusan patah tulang, keseleo ataupun otot terjepit. saya diantar oleh Bang Ali, tetangga saya pensiunan PLN. sosok manusia yang sangat ringan tangannya dalam membantu orang lain.

jam 19.30 kami tiba di rumah H.Naim ysng terletak di wilayah kompleks MPR.saya mendapat nomor 13. nomor antrian yang cukup jauh terlebih tangan saya sudah tidak mau kompromi, rasanya ngilu dan sakit. tepat di sebelah saya ada seorang pemuda yang menawarkan diri nomornya. dia nomor 4, saya sangat bersukur. Allah memberikan saya kemudahan kembali. tepat pukul 20.00 barulah tabib keluar. entah spontanitas atau Allah yang menggerakan bibirnya, "nomor 4", kata itu meluncur dari kedua bibirnya.
Hari Senin, tanggal 21 Juni 2010 saya bertandang ke BPKP. Kepergian saya ke instansi pemerintah tersebut bukan kali yang pertama dan bukan pula sendiri. Senior (Drs. Harry Poerwanto) dan Kepala Inspektorat (Ir. Djuma'ali, M.Si) turut menemani saya dalam mensukseskan kerjasama antara BPPT dengan BPKP mengenai sosialisasi dan diklat Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP). Instansi kami mendapatkan kesempatan untuk sosialisasi SPIP pada tanggal 30 Juni dan 1 Juli 2010. Tidak hanya pejabat struktural tapi juga pejabat non struktural turut mendapatkan kesempatan yang sama untuk memahami sistem pengendalian tersebut. Kemudian pada tanggal 5 sampai 9 Juli 2010 dilanjutkan dengan diklat SPIP di Ciawi Bogor. Seluruh anggaran yang dibutuhkan sudah ditanggung oleh Asian Development Bank melalaui BPKP. Bukan hanya BPPT tetapi juga instansi pemerintah lainnya yang membutuhkan SPIP akan ditanggung oleh ADB dan ini murni hibah menurut nara sumber yang tidak bisa saya sebutkan namanya.

Luar biasa...kesan yang saya dapat keluarkan. Betapa peduli mereka hingga mendonorkan sebagian hartanya kepada Indonesia yang memang menurut salah satu harian berita di Indonesia sebagai negara terburuk ke-2 setelah India dalam Reformasi Birokrasinya. Ada wisdom yang saya tangkap dari negara-negara tetangga. Tujuan mereka pun mulya untuk membantu Indonesia agar dapat menyongsong kehidupan yang lebih sejahtera. Ada kesadaran utuh untuk memberi, dan memberi selalu jauh lebih mulya dibandingkan menerima. Bukankah hidup memang untuk memberi. Indonesia yang memang dikenal oleh dunia sebagai negara terkorup sudah terbiasa membisniskan derajat dan statusnya untuk mendapat belas kasihan dari negara tetangga. Adanya mental pengemis dan objek dalam pribadi-pribadi bangsa ini. Rasanya belum cukup puas kalau tidak menjadi pusat perhatian bukan memperhatikan. Dari sudut pembiayaan negara saja masih menganut hutang dalam negeri dan hutang luar negeri. Saya menginginkan sebuah negara yang dapat mandiri dan hidup berdasarkan pendapatannya sendiri. Dalam kehidupan rumah tangga saja kita sangat riskan kalau pengeluaran lebih besar daripada pemasukan, apalagi negara. Sudah sepatutnya negara kita mulai menabung. Kurangi pengeluaran yang tidak perlu. Dan sudah seharusnya menjadi negara donor.

Bila SPIP mempunyai tujuan yang sangat tulus dan mulia yaitu agar tercapainya efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan penyelenggaraan pemerintah, keandalan laporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan, maka ketika SPIP dapat berjalan sebagaimana mestinya, sudah saatnya pemerintah dalam hal ini Kepala Pemerintah mengurangi lembaga-lembaga pengawasan yang sudah terlalu banyak dan menumpuk di negeri Indonesia yang kita cintai ini. Mungkin Indonesia bukan kekurangan lembaga pengawas, tapi kekurangan manusia yang merasa diawasi oleh Tuhannya dalam keadaan apapun dan di manapun. Saya masih mendambakan Indonesia yang lebih damai dan sejahtera. Indonesia yang peduli dan penuh perhatian kepada sesamanya.
Hari Minggu, 20 Juni 2010 jam 08.00 WIB saya mengantar isteri ke Point Square Lebak Bulus menggunakan sepeda motor RX King dengan No. Pol B 6494 SCJ. Bukanlah suatu kebiasaan apalagi rutinitas bila kami harus bersusah payah memarkir motor dalam ruangan parkir B2 yang masih gelap gulita karena mall baru beroperasi aktif jam 10.00 WIB. Tujuan dan fokusnya cuma satu, yaitu mengikuti pelatihan Test Potensi Akademik yang memang sedianya rutin diselenggarakan pada hari sabtu atau minggu mulai dari pukul 08.30 s.d 16.30. Entah mengapa GPS Jakarta selaku penyedia jasa pelatihan Psikotes, TPA/TKU/Logika, Try out Psikotest memilih lokasi di Mall Point Square Lantai M, yang jelas ada sedikit kesulitan untuk mencari apalagi mendapatkan lokasi tersebut. Setelah bertanya pada satpam, kita diarahkan ke lantai 5 dengan menggunkan lift barang. Dalam waktu beberapa menit saja, kita telah sampai lantai 5, lantai yang masih perlu renovasi dan penyempurnaan di sana sini. Yang terlihat hanya ruangan yang belum jadi dan masih kotor. Rasa penasaran dan keyakinan bahwa petunjuk satpam itu benar mengantarkan kami untuk memeriksa setiap tempat yang berada di lantai 5, ternyata yang hanya ada 3 ruangan yang sudah bisa dihuni dan memang ada pengelolanya, yaitu inul vizta, billiard dan kantor notaris. Kesimpulannya petunjuk satpam meleset. Lalu isteri segera menghubungi kontak GPS Jakarta, dan kita diminta untuk turun satu lantai, yaitu lantai M, dan setelah pintu lift terbuka, para peserta sudah banyak yang mengantri untuk daftar ulang.

Dari ruangan dan personel GPS yang ada, efisiensi yang diterapkan sangat tinggi. Satu pengajar dan 2 staf administrasi. Adapun ketersediaan bangku peserta untuk satu kali pelatihan dalam standard operating procedure GPS hanya sebanyak 50 peserta. Entah kenapa pada hari minggu itu Pak Koko melepas hingga angka peserta sampai pada 65 orang. "Itupun sudah ditolak, kalau tidak bisa sampai ratusan", kata pak Koko. Luar biasa, 3 orang bisa mengelola jasa pelatihan TPA, dengan Rp. 200.000,00/orang/peserta. Kalau anda mau menghitung, silahkan dikalikan 65 orang. Dalam sehari saja sudah bisa meraih kocek sebanyak itu (jangan lupa dipotong biaya operasional). Yang jelas saya cukup salut dengan peluang yang berhasil ditangkap oleh Pak Koko. Terlebih lagi peluang itu semakin besar, karena TPA/Psikotest memang sekarang semakin meluas dan digunakan untuk memasuki perguruan tinggi dan sekolah. Jadi TPA/Psikotest tidak lagi konsumsi dunia kerja, tapi sudah menjadi kebutuhan dunia akademis hingga tingkat Sekolah Menengah Pertama.

Dalam ranah potensi manusia, harus diakui bahwa tidak hanya intelektual yang dianggap penting, tapi juga emosi dan juga spiritual. Berbagai penelitian dan pengembangan sudah mengakui bahwa perkembangan emosi dan spiritual mempengaruhi integritas dan kapabilitas seseorang. Perkembangan ilmu pengetahuan telah menetapkan standar pengukuran intelektual, maka munculah program pelatihan untuk meningkatkan intelektual seseorang sampai ketingkat standar, kalau tidak ingin disebut down syndrom. Tapi pengukuran emosi dan spiritual belum mendapatkan posisi seperti layaknya intelektual. Ada pengaruh ekperimental an sich yang didominasi oleh kalangan positivism. Aliran inipun berkembang pada mulanya dipelopori oleh kalangan ilmuwan ilmu pasti atau eksakta. Segala sesuatu harus terukur, maka pemeriksaan bersifat matematis dan analitis. Sayang sekali ketika dunia telah sepakat bahwa emosi dan spiritual punya posisi seimbang bahkan lebih penting dibanding kecerdasan intelektual tapi tidak mendapatkan standar pengukurannya sendiri apalagi pelatihan sebagaimana layaknya TPA/Psikotest. Bukankah kita menginginkan seseorang yang tidak hanya pintar, tapi juga matang dari sudut emosi dan spiritual. Seorang pintar dan juga sholeh, atau lebih tepatnya sholeh dan juga pintar. Biar Indonesia lebih damai dengan kehadiran orang-orang baik dan jujur. Saya pun belum mempunyai prototype manusia yang memenuhi ketiga unsur tersebut, IQ, EQ dan SQ yang tinggi. Mungkinkan dia manusia tanpa cela bahkan dia manusia sempurna atau yang biasa kita sebut insan kamil. Who knows....

Bravo GPS Jakarta.
Sabtu, tanggal 8 Mei 2010

Setelah membuka pintu, tanpak air masih terlihat menggenang di bebarapa sudut lapangan depan rumah. Sebagaimana biasa, ada wanita tangguh bernama Lena yang sangat tulus mengeringkan air yang masih tersisa untuk kenyamanan orang lain yang melaluinya. Hari demi hari biasa ia mulai dengan membersihkan sampah kemudian membuangnya ke tempat sampah Rt 001 Rw 05 Kebayoran Lama Utara, tapi itu hanya berdasarkan pengamatanku yang kebetulan setiap pagi sesempat mungkin membuka jendela demi sirkulasi. Entah berapa banyak pahala yang sudah dikumpulkan, kadang membuat iri. Apalagi Ketua RT, Bapak Abdul Rozak yang luar biasa. Hampir setiap hari dia menyempatkan diri untuk menyiram tumbuhan, menyapu, dan membakar sampah. Padahal jelas-jelas yang dia lakukan itu untuk kepentingan orang lain. Mungkin karena mereka berdua sudah sampai ke maqom mukhlisin (kedudukan orang-orang yang sudah mencapai ikhlas).

Sedangkan saya, pagi itu hanya menunggu panggilan dari Abdul Rohim, alisas Boim salah satu pengurus Musholla al-Hidayah untuk bekerja bakti membersihkan musholla karena nanti malam akan dipakai untuk kegiatan Maulid Nabi Muhammad saw 1431 H. Ada semangat yang terpancar dari warga kami untuk selalu istiqomah menyelenggarakan maulid dari tahun ke tahun, meskipun harus diakui, warga kami bukanlah orang-orang yang diberikan kelibihan harta. Untuk sekedar mengadakan maulid saja, kami terpaksa mencari donasi dari donatur yang pada umumnya tidak ingin disebutkan namanya. Benar saja, tepat pukul 07.30 Bapak Bali telah mengumumkan dan memanggil seluruh warga Rt 001, khususnya pemuda agar berkumpul di musholla. Saya pun tenggelam ikut membersihkan walaupun hanya 1 jam, karena jam 8.30 saya sudah harus kembali dan bersiap-siap mengantarkan isteri saya, Luluk Arifatul Khorida yang akan ikut test di PT. Sampoerna Tbk di One Pacific Place. Alhamdulillah isteri sangat berantusias untuk mengikutinya, beberapa hari dia mempersiapkan diri dengan berlatih Tes Potensi Akademik (TPA) dan Psikotest. Ada secercah harapan yang dia bangun. Mungkin dia juga bermimpi untuk menjadi salah satu pegawai di perusahaan yang sahamnya sebagian besar telah dibeli oleh Philip Morris.  Sampai Jum'at malam pukul 22.00 pun dia masih terjaga dengan soal-soalnya dan berharap ujian tertulisnya mirip sebagaimana latihan yang dia tekuni. 

One Pacific Place sendiri, terletak di pusat kota, Sudirman Central Business District (SCBD) JL. Jendral Sudirman Kav. 52-53 membuat saya tidak perlu bertanya mengenai seberapa sehat perusahaan tersebut. Elegan, mewah, profesional, dan hangat menjadi kesan saya ketika memasuki gedung tersebut. Petugas security yang tanggap menjadi ciri khas standard operation procedur-nya. Mungkin juga karena bergandengan dengan Ritz Carlton, salah satu hotel bintang 5 yang kadang menjadi sasaran "para teroris". Saya hanya menemaninya selama 10 menit, karena sebentar lagi dia akan menjalani test tertulis yang akan memakan waktu sekitar 120 menit.

Dapat kerja merupakan perpaduan antara kemampuan, kesempatan dan Tangan Allah. Kemampuan yang dibangun dari persiapan yang kita bangun hingga memenuhi standar yang diharapkan. Kesempatan adalah terbukanya peluang sesuai dengan kamampuan yang telah kita persiapkan. Sedangkan Tangan Allah adalah koneksi yang dibangun oleh tangan-tangan tidak terlihat antara penguji dan yang diuji. Adanya kecocokan dan chemistry yang muncul begitu saja, dan itu bukan pekerjaanmu, wahai isteriku. Bagian itu sudah ada yang mengerjakan, kita hanya diminta untuk mempertahankan dengan silaturahim.


Sesampainya di rumah, ada sms "kak, rd kemarin daftarna bag apa??? graduate trainee or sales management trainee". Padahal sudah beberapa hari yang lalu diminta untuk melihat sent gmail-nya, tapi belum juga dilakukan. Kita hanya berusaha, Allah tidak akan melakukan sesuatu yang bisa kita lakukan. Maka mulailah dengan lebih terencana, cepat dan teliti. Semoga dapat memadukan capabilitas dan integritas secepat mungkin. 


Hari Sabtu, tertanggal 1 Mei 2010 jam 14.00 saya dan isteri saya, bergegas menuju Pasar Senen. Tujuan utamanya adalah mencari pasar buku eks kwitang. Sampai Dukuh Atas jalan mulai merayap, dan kibaran bendera-bendera serikat buruh mulai ramai memenuhi jalan. Tidak hanya buruh yang sibuk, melainkan juga polisi yang diberi tugas menjaga aksi buruh damai kali ini. Jalan menuju bundaran HI pun ternyata sudah di blok, di evakuasi kecuali buruh yang ingin berunjuk rasa di sekitar HI. Saya pun harus mencari jalan tikus dan ikut berdesakan dengan bikers lainnya.

Buruh harus berani mengekspresikan dirinya untuk menggapai kebahagiaanya. Buruh yang tertindas, buruh yang hak untuk sejahteranya belum terpenuhi, buruh yang sangat khawatir terhadap masa depan keluarganya, buruh yang dimarginalkan dalam struktur ekonomi dan kepemilikannya, buruh yang terpinggirkan secara hak-haknya tapi dituntut penuh dalam kewajibannya. Bila melihat rumus bahagia, memang buruh masih bisa berbahagia dan mendamaikan batinnya dengan melihat saudara-saudaranya yang masih menganggur dan tak tentu arah. Tapi persoalan keadilan, terlebih keadilan ekonomi hanya manusia yang berani mengejawantahkan dalam bentuk blue print ekonomi Indonesia. Keadilan Tuhan ada di tangan manusia, entah ada kooptasi dalam memahaminya apalagi dalam realisasinya hingga terasa ketidak adilan begitu lekat di tanah air tercinta ini. Siapa yang harus bertanggung jawab bila angka pengangguran terus meroket. Para rektor dan pemilik universitas begitu bersemangat untuk segera meluluskan mahasiswanya, tapi mereka tidak memikirkan dampaknya. Mahasiswa yang tidak lagi kritis tapi apatis, mahasiswa yang kini gemar bergulat dengan buku dan teori tapi mati hati dan empatinya. Kecerdasan sosialnya sudah dibungkam oleh dunia pendidikan. Kelahiran sarjana cerdas tapi tidak peduli sudah dibidani pada abad ini. Maka tidaklah heran ketika mereka berhasil dan sukses, hanya satu obsesinya yaitu membangun kastil-kastil dengan pagar berduri. Hunian rumah bergaya cluster, mega blok, super blok sudah menjadi hal biasa. Tidak puas, apartemen-apartemen baik yang bersubsidi maupun tidak menjadi sasaran kepemilikan berikutnya. Bila melihat kepemilikan terhadap rumah mewah dan apartemen tersebut, tidak jarang kita menjumpai masih banyak yang di atas namakan hanya satu nama, padahal di sisi lainnya, masih banyak nama pula yang belum memiliki tempat bernaung walaupun hanya sebatas rumah sangat sederhana sekali.  Belum lagi bila mau menengok angka kepemilikan kendaraan di Jakarta, rasanya panjang jalan dengan panjang kendaraan tidak lagi sebanding. Sayangnya mobil tersebut masih banyak yang dimiliki oleh orang-orang tertentu saja. Apabila ada sedikit keadilan saja, mungkin mobil-mobil ini sudah tersebar di kota-kota kecil lainnya. Sehingga kita tidak perlu merasakan macet yang berkepanjangan. Macet tidak perlu harus menjadi konsumsi. Bukankah implikasi dari itu semua tidak lain adalah pemborosan. Bahan bakar, freon, carbon monoksida ikut andil dalam mempercepat pemanasan global. Jakartapun semakin panas, karakter manusia pun semakin beringas. Potensi pertarungan kelas bourjuis dan kelas proletar sudah sangat terbuka. Kalangan bourjuis yang gemar memamerkan simbol-simbol kesuksesannya, sedangkan kalangan proletar yang gigih menggugat dengan demontrasinya. Indonesia khususnya Jakarta diambang perang saudara. Bila saja ada provokasi dan konspirasi, maka kerusuhan Mei sangatlah mungkin terulang kembali. 

Rehat sebentar untuk kritik sosial. (Kalau boleh jujur, rasanya ingin sekali terus berteriak dan menyuarakan setiap lini ketidak adilan di negeri ini). 

Setibanya di Pasar Senen, kami harus aktif bertanya di mana relokasi pedagang eks Kwitang. cukup dua kali bertanya untuk mengantarkan kami ke lantai 4 Proyek Senen yang dahulu pernah terbakar. Di sana pedagang eks Kwitang berkumpul, formatnya masih sama. Buku yang lama/jadul di obral. Mulai dari tiga ribu sampai dengan sepuluh ribu. Untuk buku barunya masih sama seperti yang dulu. Discount hingga 40 s.d 50 persen bila kita pintar menawarnya. Setelah membeli buku, kita berpidah ke Plaza Senen. Bangunan baru dengan format grosir cukup menjadi perhatian saya. Mulai dari grosir jam tangan, aksesoris hingga tas. Harganya pun cukup bervariasi dan lumayan murah. Perburuan di Pasar Senen pun diakhiri dengan sepiring siomay dan es teler. Emm... Lumayan enak

Setiba dirumah, saya pun beristirahat sejenak. Tepat pukul 15.15 kumandang adzan Ashar sayup-sayup terdengar. Ada sms masuk. Adalah sahabat saya, Pak Ibnu Hajar al-Hafidz memberitahu bahwa dia telah sampai di Kedai Bubur Sukabumi, sebelah pom bensin gandaria tempat kami akan bersua dan berkumpul. Bincang-bincang kecil pun dimulai, hingga akhirnya dia mengutarakan bahwa dia sudah mulai membangun Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an an-Nayiroh. Pondok Pesantren Penghafal Qur'an Yang Bersinar dalam bahasa Indonesianya. Dia mengutarakan bahwa obsesinya tidaklah mudah, banyak hambatan dan tantangan yang dialaminya. Selain kendala eksternal, dia juga mengalami kendala internal. Profesinya sebagai guru tahfidz di Sekolah Nurul Fikri cukup menyita waktu dan perhatiannya. Belum lagi jadwal privatnya. Sedangkan untuk pembangunan Ponpes tersebut, dia cuma berbekal proposal yang diajukan keberbagai instansi. Sepertinya dia butuh pendamping yang bisa merealisasikan mimpi-mimpinya. Benar dugaan saya, pada akhirnya dia pun mengatakan maksud dan keinginannya agar saya ikut membantu mencari pendamping hidupnya. Minimal sarjana dan punya hafalan Qur'an walaupun tidak seluruhnya. 

Tepat pukul 18.00 WIB, teman saya, Nurhayati sms bahwa dia sudah mengumpulan teman-teman untuk nonton film bareng Iron Man 2 di Hollywood KC yang dahulu bernama Planet Holywood-Gatot Subroto. 7 tiket telah dibeli dan free of charge alias gratis. Karena saya bersama isteri, dia membelikan saya 2 tiket untuk tayang jam 19.15. Terus terang saya baru kali pertama nonton di Holywood KC tersebut. Tidak ada yang istimewa untuk kelas bioskop 21. Memang kapasitas bioskopnya lebih besar, tapi untuk kebersihan dan kenyamanan, sepertinya pihak Holywood KC harus mulai berbenah deh. Adapun kesan saya terhadap film bergenre action high tech tersebut lumayan menghibur. Ada pesan yang ingin disampaikan melalui film tersebut. Dunia Barat dibangun dengan riset dan teknologi. Ilmu pengetahuan yang dapat terverifikasi melalui panca indra baru dapat dikatakan sebagai ilmu. Daya tarik dan antusias masyarakat dalam menanti setiap detil perkembangan peradaban begitu sangat nampak. Teatrikal Espektasi dan penghormatan kepada seorang peneliti digambarkan dengan sambutan yang hangat dan meriah ketika Tony Stark sang pencipta Iron memasuki podium. Banyak sekali pihak yang tertarik untuk memanfaatkan hasil penemuannya, terlebih Departemen Pertahanan dan Keamanan. Mungkin dalam kehidupan nyata pun di Barat seperti itu, dan ini sangat kontradiktif dengan perlakuan bangsa Indonesia terhadap dunia riset. Bangsa Indonesia lebih suka menjadi generasi instan, "Untuk apa melakukan riset, bukankah biayanya terlalu tinggi. Lebih baik beli saja", kalimat yang sering dilontarkan. Akhirnya perkembangan politik dan pemerintahannya pun cenderung konsumtif daripada produktif. Pukul 21.20 film berakhir. Semakin malam, semakin ramai. Jakarta tidak pernah sepi dari manusia-manusia yang mencari hiburan. Entah apapun motivasinya...


Tepat pukul 10.00 WIB saya diajak oleh rekan kerja saya, Pak Edry Faidillah, untuk berkunjung dan menghadiri diskusi akbar yang sedianya dilaksanakan pada hari Jum'at. Ternyata ada Nara Sumber bernama Arvan Pradiansyah dengan pakaian batik dan berkacamata. Sekilas lihat, sepertinya saya pernah melihat pembicara yang sedang berpresentasi di depan Komisi 3 BPPT tersebut meskipun sebatas cover buku. Akhirnya saya teringat beberapa bulan silam ketika saya berjalan-jalan ke Gramedia Blok M. Yah memang dia adalah penulis best seller untuk buku-buku ber-genre motivator.

Sebelum dia memberikan 7 kuncinya, Pak Arvan menjelaskan perbedaan antara Sukses dan Bahagia. Orang sukses adalah orang yang berusaha mengejar mimpi-mimpinya, jadi gerakannya progresif. Karena mimpi itu tidak akan pernah stagnan, jadi setiap manusia tidak akan pernah puas. Sukses selalu menjadi outer atau hal-hal yang nampak. Manusia dituntut untuk bersikap wajar, semakin banyak prestasi maka sebanyak itu pula kontraprestasi yang dia dapatkan. Jadi hubungannya bersifat timbal balik (win win solution). Setiap orang yang mengejar win-win solution dalam kehidupannya, maka wajib mengerahkan seluruh potensi physic and mind secara bersamaan. Tapi dia pun mengomentari obsesi seseorang yang ingin meraih sukses tersebut, karena tingkatan ini masih tingkatan elementer (standard). Tingkatan tertinggi adalah seseorang yang bisa melakukan sesuatu dengan mengintegrasikan tiga potensi yang dimiliki, yaitu physic, mind dan soul. Ketiga unsur inilah yang akan mengantarkan orang menjadi pribadi yang bahagia dan unggul, karena ada unsur yang terpenting dalam bekerja yaitu keikhlasan dan ketulusan. Bekerja untuk memberi dan berbagi bukan bekerja untuk diberi karena berprestasi. Karena Allah tidak akan berlaku tidak adil, apalagi dholim. Lalu dia berkomentar bahwa kebanyakan manusia tidak dapat menggapai dua level tersebut, karena terjerumus dalam kubangan bekerja hanya dengan fisik. Bekerja tapi konsentrasinya dan pikirannya ke mana-mana. Sungguh sangat berat bekerja hanya menggunakan potensi fisik, tapi kenapa manusia banyak sekali yang menjalaninya. Kalau boleh berkomentar ada paradox dalam terma sukses dan terma bahagia. Ketika seseorang ikhlas dan selalu positif thinking dalam kehidupannya, apakah hal ini akan merubah keadaan kita kalau kita sendiri tidak minta feed back yang wajar untuk segala yang kita usahakan. Dalam kehidupan, yang mengatur adalah manusia. Ada banyak campur tangan manusia. maka keadilan yang coba dikontruksipun keadilan versi manusia. Pernahkah kita renungkan kalau setiap manusia meskipun prestasinya sama tapi reward yang didapatkan tidaklah sama. Mungkin memang ini keadilan dari Tuhan, tapi apakah kita harus menerima keadaan ini dengan cara selalu melihat ke bawah meskipun kita sendiri tidak cukup apalagi untuk mencukupi orang-orang yang kita kasihi. Agama memberikan jalan keluar untuk mengantisipasi permasalahan akut ini, ada kekuasaan untuk mengambil sebagian kelebihan dari orang yang mendapatkan kelebihan pendapatan untuk dibagikan kepada orang yang mengalami kemalangan karena adanya pemiskinan secara sistemik. Begitupun negara, maka kepala negara selalu wakil Tuhan agar bisa menebarkan keadilan melalui pengambilan pajak. Masih dibutuhkan tangan-tangan kekuasaan untuk membumikan keadilan di negara ini.

Pak Arvan pun memberikan 4 tipologi manusia berdasarkan kontribusi dan reward yang diharapkan:
1. Kontribusi sedikit dan mengharapkan reward penuh (tipe manusia tidak wajar dengan paradigma win-lose solution)
2. Kontribusi sedikit dan mengharpankan reward sedikit (tipe manusia wajar dengan paradigma lose-lose solution)
3. Kontibusi penuh dan mengharapkan reward penuh (tipe manusia wajar dengan paradigma win-win solution) dan terakhir
4. Kontribusi penuh tanpa mengharapkan reward (tipe manusia ikhlas yang mengharapkan keadilan dari Tuhan, manusia seperti ini mempunya paradigma lose-win). Hemat saya agak membahayakan, meskipun Tuhan tidak pernah berlaku dholim kepada hambanya, tapi manusia bisa jahat kepada manusia lainnya. Dan manusia jahat ini harus dihilangkan niatnya.

Setelah itu Pak Arvan baru memasuki pembahasan The 7 Laws of Happiness - nya.
Dia memaparkan ada 7 kunci meraih kebahagiaan:
• Katagori Intra personal skill
1. Sabar
2. Sukur
3. Simpel/Sederhana yang masuk katagori intrapersonal skill

• Katagori Interpersonal skill

4. Cinta
5. Memberi
6. Memaafkan dan terakhir

• Katagori spiritual skill

7. Berserah diri

Sabar
Ada ilustrasi menarik yang disampaikan oleh Pak Arvan, dia mengatakan dan sejarah membuktikan kalau Kolonel Sanders merupakan orang yang sangat sabar. Ratusan penolakan sudah dialaminya, tapi dia tidak pernah menyerah. Kalau saja Kolonel Sanders menyerah ketika kegagalan yang ke 99, maka tidak akan pernah ada Kentucky saat ini. Begitupun Chicken Soup. Tapi melihat fenomena ke-Indonesia-an, ada realita yang membuat kita tergelitik, ternyata quick count menjadi pilihan untuk para politisi yang ingin cepat melihat hasil. Mereka begitu menikmati dan segera menggelar pesta kemenangan meskipun baru sebatas pooling versi quick count. Peduli setan dengan proses, yang penting hasil. Mungkin sudah zamannya era instan. Kunci sukses orang besar yang pada akhirnya menjadi tokoh adalah sabar. Kalau saja kita tidak bersabar, dan ingin cepat-cepat memetik hasil berupa kesenangan, kemewahan maka tidak akan pernah ada kemenangan. Karena seseorang yang berhasil adalah seseorang yang sanggup menahan dirinya untuk tidak terperangkap dalam kesenangan dan perbuatan sia-sia.
Mana yang Anda pilih antara menikmati proses atau menikmati hasil?

Sukur
Sukur elementer adalah ketika seseorang bersukur karena ....contohnya bersukur karena dapat nilai A bagi mahasiswa, dapat promosi jabatan bagi pegawai, dapat untung besar bagi pedagang. Sukur jenis ini, semua manusia bisa karena biasa. Sukur yang tertinggi adalah bersukur walaupun/meskipun ....contohnya bersukur walaupun gagal, bersukur walaupun rugi, bersukur walaupun tidak cantik. Karena segala baik menurut kita belum tentu baik menurut Alah, begitupun sebaliknya. Ilustrasi Ada seorang petani yang mempunyai seekor kuda putih, suatu ketika kuda kesayangannya tersebut hilang. Dalam waktu singkat, tetangga petani tersebut datang dan ikut berempati atas kehilangannya. Reaksi yang dikeluarkan oleh petani tersebut justru sebaliknya, petani tersebut tetap dalam keadaan tenang dan bersukur. Setelah beberapa hari kemudian, ternyata kuda putih tersebut kembali dengan membawa segerombolan kuda hitam liar masuk ke kandang petani tersebut. Dalam waktu singkat petani tersebut menjadi seorang kaya di desanya dan sebagaimana biasanya tetangga petani itu pun kembali datang untuk menyatakan turut berbahagianya atas anugerah yang didapat petani tersebut. Sikap yang dimuculkan oleh petani itu pun sama seperti ketika dia mengetahui bahwa kudanya hilang, tetap bersukur apapaun yang diberikan oleh Tuhan. Karena baik buruk menurut manusia belum tentu sama menurut Tuhan.

Ada ilustrasi menarik dari yang bisa dikutip dari filsafat bahasa inggris, kenapa kejadian-kejadian yang telah lampau disebut history (he story), dan mengapa kejadian yang akan datang tidak dapat diketahui oleh siapapun disebu mystery. Sedangkan kejadian pada saat ini di sebut present (gift ataupun hadiah). Maka bersukurlah sekarang, karena sekarang di mana kita hidup adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepada kita. Sebagaimana tulisan yang biasa kita lihat di pintu-pintu Metro Mini dan Angkot, "Hari ini bayar, besok gratis". Karena sejatinya tidak ada hari esok, yang ada hanya hari ini.
Maka sukuri apa yang ada dan selalulah melihat ke bawah agar kita menjadi orang yang pandai bersukur.

Simpel (Sederhana)
Sebenarnya segala masalah yang ada didunia ini tidak akan melebihi kemampuan seorang yang memikulnya. Akan tetapi cara pandang (mind set) seseorang dalam menyikapinya itu yang berlainan, maka diperlukan teknik atau seni menyikapi setiap masalah yang ada dihadapan. Setiap persoalan tidak lain adalah untuk melatih kita agar dapat berbuat yang lebih baik dan bijak. Tuhan pun telah mendesain otak kita dengan sifat lupa, maka tidak akan ada persoalan yang tidak bisa dilupakan, semakin banyak usaha kita untuk melupakan semakin banyak pula usaha kita untuk mengingat. Maka biarkan setiap persoalan mengalir dengan tanggung jawab kita untuk menyelesaikan.

Cinta (Kasih)
Ada fenomena menarik yang dapat kita amati dari beberapa buku yang diterbitkan di Indonesia, bahkan di dunia. Buku-buku berjudul "bagaimana agar dicintai suami", "bagaimana agar dicintai isteri", "bagaimana agar disayang atasan" dan lain-lain. Yang menarik adalah buku-buku tersebut selalu menjual kata kerja pasif yaitu agar di bla bla bla. Bukankah kata kerja pasif ini menuntut agar orang lain berbuat sesuatu untuk kita. Maka tidaklah heran kalau bangsa Indonesia ingin sekali menjadi tuan yang dilayani bukan yang melayani, Suami yang ingin dicintai bukan mencintai, Atasan yang ingin dihormati bukan menghormati. Implikasi dari itu semua adalah etos kerja yang rendah, kemampuan sebagai objek bukan subjek, orang yang mau menuntut bukan bertanggung jawab. Ada fenomena menarik yang muncul dalam alam demokrasi Indonesia, banyak klaim dan pengatasnamaan Tuhan untuk memaksakan sesuatu kehendak terhadap orang, atau bahkan kelompok yang berbeda pendapat.

Memberi
Cinta bukanlah cinta sebelum dipersembahkan. Memberi tidak dapat dipisahkan dari cinta. Bila memberi lahir bukan dari rahim cinta maka yang mucul bukan ketulusan, akan tetapi kemunafikan atau bahkan investasi sebagaimana pandangan kapitalis. Kita banyak melihat fenomena yang muncul belakangan ini di alam Indonesia, ketika mendekati pemilu, maka banyak partai politik seakan-akan berubah menjadi sinterklas, sang juru selamat, seorang yang dermawan yang memberikan sumbangan, santunan, bantuan atas nama partai politik tertentu. Tujuan mereka tentu bukan karena cinta, karena cinta hanya mengenal memberi tanpa mengharap kembali. Mereka menawarkan bantuan dengan label partai politik. Implikasi terbesar dari itu semua adalah pemborosan uang negara bahkan cenderung korup ketika menjabat. Bagaimana mungkin mereka tidak mengharapkan kembalinya uang, ataupun kapital ketika mereka memberi bukan atas nama cinta. Ketika ada niyat bahkan obsesi untuk mengeruk uang rakyat, seharusnya negara dengan kekuasaannya dapat menghentikan niyat ini.Buatlah sistem yang terbaik, sistem atas nama cinta, sistem yang tumbuh alamiah bukan konspirasi.

Memaafkan
Untuk menggapai bahagia, salah satu kuncinya adalah memaafkan. Semakin banyak kita memaafkan semakin tenang hati kita. Dengki atau pun dendam tidak akan pernah dapat membahagiakan kita. Sesakit apapun kita disakiti, ataupun dianiaya, memaafkan menjadi jalan terbaik untuk meraih kebahagiaan. Kalau saja kita tidak dapat memaafkan orang lain atas kesalahannya, maka hati kita tidak akan pernah tenang dan selalu resah. Usaha mendamaikan hati yang resah ini dengan cara memaafkan.

Memang agak sulit untuk diterapkan di Indonesia, karena masyarakat Indonesia telah terbiasa dengan budaya saling menyalahkan. Sebagaimana biasa kita melihat para orang tua yang selalu menyalahkan kodok ketika anaknya jatuh dan menangis meskipun para orang tua tersebut sangatlah mengetahui dan sadar kalau tidak ada kodok yang ada di sekitar anak tersebut. Maka tidaklah heran kalau anak tersebut tumbuh dan berkembang otak kanannya dengan pelajaran harus menyalahkan sesuatu bila terjadi sesuatu, tapi bukan salah saya. Budaya kambing hitam, budaya menyalahkan, budaya lempar tanggung jawab menjadi sarapan yang biasa disajikan dan ditayangkan di siaran berita tanah air kita. Tanpa sadarpun akhirnya membentuk budaya yang terus melembaga dan tumbuh berkembang dalam alam bawah sadar dan alam sadar manusia.

Berserah
Berserah menjadi suatu kewajiban manusia dalam menggapai kebahagiaannya. Karena tidak semua persoalan dapat diselesaikan oleh tangan-tangan manusia. Tapi Tuhan tidak akan pernah melakukan pekerjaan yang dapat dilakukan oleh tangan-tangan manusia. Maka ada doa yang diajarkan oleh rasul agar meminta yang terbaik menurut pandangan Tuhan. Ketika kita berupaya optimal dan maksimal, apapun keputusannya, apaun hasilnya....itu adalah yang terbaik untuk kita.
Kenapa berserah diletakkan diakhir, karena harus berusaha terlebih dahalu baru kemudian berserah diri. Tuhan hanya meneruskan apa yang kita kerjakan. Tidak akan ada pernikahan bila kita tidak mencari pasangan, tidak akan ada rezeki bila kita tidak mencari.

The 7 Laws of Happiness ini saya tuliskan sesuai bahasa yang saya bisa. Mohon maaf bila terjadi kesalahan dalam mereduksi The 7 Laws of Happiness.

Anda adalah makhluk Tuhan yang paling beruntung, Anda harus berbahagia sekarang.

Selamat berbahagia sahabat...

Lihat Cover Buku-nya, semoga menjadi bahan referensi untuk menggapai kebahagiaan.

Kesan pertama menggunakan blogger....emmm, yang jelas

  1. Kolom postingnya sepertinya hampir sama dengan yang ditawarkan oleh wordpress
  2. sepertinya lebih mudah dibandingkan wordpress
  3. CSS nya sepertinya terbuka
  4. Lebih banyak pilihan templatenya...gratis lagi
  5. Blogger berhubungan dengan google cing

And so on deh...