Hari Senin, tanggal 21 Juni 2010 saya bertandang ke BPKP. Kepergian saya ke instansi pemerintah tersebut bukan kali yang pertama dan bukan pula sendiri. Senior (Drs. Harry Poerwanto) dan Kepala Inspektorat (Ir. Djuma'ali, M.Si) turut menemani saya dalam mensukseskan kerjasama antara BPPT dengan BPKP mengenai sosialisasi dan diklat Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP). Instansi kami mendapatkan kesempatan untuk sosialisasi SPIP pada tanggal 30 Juni dan 1 Juli 2010. Tidak hanya pejabat struktural tapi juga pejabat non struktural turut mendapatkan kesempatan yang sama untuk memahami sistem pengendalian tersebut. Kemudian pada tanggal 5 sampai 9 Juli 2010 dilanjutkan dengan diklat SPIP di Ciawi Bogor. Seluruh anggaran yang dibutuhkan sudah ditanggung oleh Asian Development Bank melalaui BPKP. Bukan hanya BPPT tetapi juga instansi pemerintah lainnya yang membutuhkan SPIP akan ditanggung oleh ADB dan ini murni hibah menurut nara sumber yang tidak bisa saya sebutkan namanya.

Luar biasa...kesan yang saya dapat keluarkan. Betapa peduli mereka hingga mendonorkan sebagian hartanya kepada Indonesia yang memang menurut salah satu harian berita di Indonesia sebagai negara terburuk ke-2 setelah India dalam Reformasi Birokrasinya. Ada wisdom yang saya tangkap dari negara-negara tetangga. Tujuan mereka pun mulya untuk membantu Indonesia agar dapat menyongsong kehidupan yang lebih sejahtera. Ada kesadaran utuh untuk memberi, dan memberi selalu jauh lebih mulya dibandingkan menerima. Bukankah hidup memang untuk memberi. Indonesia yang memang dikenal oleh dunia sebagai negara terkorup sudah terbiasa membisniskan derajat dan statusnya untuk mendapat belas kasihan dari negara tetangga. Adanya mental pengemis dan objek dalam pribadi-pribadi bangsa ini. Rasanya belum cukup puas kalau tidak menjadi pusat perhatian bukan memperhatikan. Dari sudut pembiayaan negara saja masih menganut hutang dalam negeri dan hutang luar negeri. Saya menginginkan sebuah negara yang dapat mandiri dan hidup berdasarkan pendapatannya sendiri. Dalam kehidupan rumah tangga saja kita sangat riskan kalau pengeluaran lebih besar daripada pemasukan, apalagi negara. Sudah sepatutnya negara kita mulai menabung. Kurangi pengeluaran yang tidak perlu. Dan sudah seharusnya menjadi negara donor.

Bila SPIP mempunyai tujuan yang sangat tulus dan mulia yaitu agar tercapainya efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan penyelenggaraan pemerintah, keandalan laporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan, maka ketika SPIP dapat berjalan sebagaimana mestinya, sudah saatnya pemerintah dalam hal ini Kepala Pemerintah mengurangi lembaga-lembaga pengawasan yang sudah terlalu banyak dan menumpuk di negeri Indonesia yang kita cintai ini. Mungkin Indonesia bukan kekurangan lembaga pengawas, tapi kekurangan manusia yang merasa diawasi oleh Tuhannya dalam keadaan apapun dan di manapun. Saya masih mendambakan Indonesia yang lebih damai dan sejahtera. Indonesia yang peduli dan penuh perhatian kepada sesamanya.
Hari Minggu, 20 Juni 2010 jam 08.00 WIB saya mengantar isteri ke Point Square Lebak Bulus menggunakan sepeda motor RX King dengan No. Pol B 6494 SCJ. Bukanlah suatu kebiasaan apalagi rutinitas bila kami harus bersusah payah memarkir motor dalam ruangan parkir B2 yang masih gelap gulita karena mall baru beroperasi aktif jam 10.00 WIB. Tujuan dan fokusnya cuma satu, yaitu mengikuti pelatihan Test Potensi Akademik yang memang sedianya rutin diselenggarakan pada hari sabtu atau minggu mulai dari pukul 08.30 s.d 16.30. Entah mengapa GPS Jakarta selaku penyedia jasa pelatihan Psikotes, TPA/TKU/Logika, Try out Psikotest memilih lokasi di Mall Point Square Lantai M, yang jelas ada sedikit kesulitan untuk mencari apalagi mendapatkan lokasi tersebut. Setelah bertanya pada satpam, kita diarahkan ke lantai 5 dengan menggunkan lift barang. Dalam waktu beberapa menit saja, kita telah sampai lantai 5, lantai yang masih perlu renovasi dan penyempurnaan di sana sini. Yang terlihat hanya ruangan yang belum jadi dan masih kotor. Rasa penasaran dan keyakinan bahwa petunjuk satpam itu benar mengantarkan kami untuk memeriksa setiap tempat yang berada di lantai 5, ternyata yang hanya ada 3 ruangan yang sudah bisa dihuni dan memang ada pengelolanya, yaitu inul vizta, billiard dan kantor notaris. Kesimpulannya petunjuk satpam meleset. Lalu isteri segera menghubungi kontak GPS Jakarta, dan kita diminta untuk turun satu lantai, yaitu lantai M, dan setelah pintu lift terbuka, para peserta sudah banyak yang mengantri untuk daftar ulang.

Dari ruangan dan personel GPS yang ada, efisiensi yang diterapkan sangat tinggi. Satu pengajar dan 2 staf administrasi. Adapun ketersediaan bangku peserta untuk satu kali pelatihan dalam standard operating procedure GPS hanya sebanyak 50 peserta. Entah kenapa pada hari minggu itu Pak Koko melepas hingga angka peserta sampai pada 65 orang. "Itupun sudah ditolak, kalau tidak bisa sampai ratusan", kata pak Koko. Luar biasa, 3 orang bisa mengelola jasa pelatihan TPA, dengan Rp. 200.000,00/orang/peserta. Kalau anda mau menghitung, silahkan dikalikan 65 orang. Dalam sehari saja sudah bisa meraih kocek sebanyak itu (jangan lupa dipotong biaya operasional). Yang jelas saya cukup salut dengan peluang yang berhasil ditangkap oleh Pak Koko. Terlebih lagi peluang itu semakin besar, karena TPA/Psikotest memang sekarang semakin meluas dan digunakan untuk memasuki perguruan tinggi dan sekolah. Jadi TPA/Psikotest tidak lagi konsumsi dunia kerja, tapi sudah menjadi kebutuhan dunia akademis hingga tingkat Sekolah Menengah Pertama.

Dalam ranah potensi manusia, harus diakui bahwa tidak hanya intelektual yang dianggap penting, tapi juga emosi dan juga spiritual. Berbagai penelitian dan pengembangan sudah mengakui bahwa perkembangan emosi dan spiritual mempengaruhi integritas dan kapabilitas seseorang. Perkembangan ilmu pengetahuan telah menetapkan standar pengukuran intelektual, maka munculah program pelatihan untuk meningkatkan intelektual seseorang sampai ketingkat standar, kalau tidak ingin disebut down syndrom. Tapi pengukuran emosi dan spiritual belum mendapatkan posisi seperti layaknya intelektual. Ada pengaruh ekperimental an sich yang didominasi oleh kalangan positivism. Aliran inipun berkembang pada mulanya dipelopori oleh kalangan ilmuwan ilmu pasti atau eksakta. Segala sesuatu harus terukur, maka pemeriksaan bersifat matematis dan analitis. Sayang sekali ketika dunia telah sepakat bahwa emosi dan spiritual punya posisi seimbang bahkan lebih penting dibanding kecerdasan intelektual tapi tidak mendapatkan standar pengukurannya sendiri apalagi pelatihan sebagaimana layaknya TPA/Psikotest. Bukankah kita menginginkan seseorang yang tidak hanya pintar, tapi juga matang dari sudut emosi dan spiritual. Seorang pintar dan juga sholeh, atau lebih tepatnya sholeh dan juga pintar. Biar Indonesia lebih damai dengan kehadiran orang-orang baik dan jujur. Saya pun belum mempunyai prototype manusia yang memenuhi ketiga unsur tersebut, IQ, EQ dan SQ yang tinggi. Mungkinkan dia manusia tanpa cela bahkan dia manusia sempurna atau yang biasa kita sebut insan kamil. Who knows....

Bravo GPS Jakarta.