Selasa, 21 April 2011
Rumah mertua yang berada di Jalan Sentono selalu nampak sepi. Wajar karena penghuni rumah ini cuma tinggal abah dan umi saja. Anak pertamanya, Abdul Razak Naufal bekerja di Pengadilan Agama Kudus, anak keduanya, Luluk Arifatul Khorida yang sekarang sebagai isteriku bekerja di BSM KCP Gajah Mada Jakarta Pusat, dan yang terakhir Habiburahman masih mondok di Pesantren Gontor Ponorogo. Setiap kali saya berkunjung ke Semarang selain pemandangan sepi juga dijumpai kondsi yang agak berantakan dan sedikit kotor pada rumahnya. Miris, kasihan merasa bersalah kadang menyelimuti diri saya. Rasanya saya pun turut andil menciptakan kondisi seperti itu karena anak wanitanya sudah saya bawa ke Jakarta. Ketidakberdayaan saya kadang menjadi justifikasi dan penawar perasaan bersalah saya pada mereka. Saya yakin mereka merasa kehilangan, tapi apakah semua orang tua harus mengalami fase yang demikian, fase ditinggalkan oleh buah hatinya dan merasa kesepian seraya berkeluh kesah alangkah lebih baiknya dahulu, ketika anak-anak masih kumpul dalam satu rumah yang sama, rumah kecil dan disesaki oleh seluruh pola dan tingkah laku anak-anaknya. Mungkin orang tua saya pun merasakan demikian.

Jangan berpikir terlalu jauh, jauhnya pikiran tidak menghasilkan sebuah tindakan, tapi setiap tindakan harus didasari oleh alasan yang keluar dari pikiran yang matang. Kesimpulan saya, saatnya bersih-bersih, karena tindakan itu bisa saya lakukan, di dapur tersedia sapu, pel, super pel aroma apel. Setelah minum hemaviton stamina plus, saya mulai menyapu lantai, yang paling kotor daerah meja makan dekat pintu, mungkin karena banyaknya tiupan angin yang membawa debu dari luar, yang kedua terkotor adalah kolong tempat tidur saya dan isteri (kamar no.2), sayangnya baik sapu dan pel tidak bisa menjangkau seluruh bagian kolong tempat tidur tersebut. Mulai dari ruang tengah, ruang keluarga, ruang tamu, ruang ibadah, teras depan, teras samping, dapur sudah selesai disapu dan dipel. Rasanya cukup puas, dan sudah saya coba tiduran di lantai, hasilnya sudah cukup nyaman kok...

Lakukan yang bisa kamu lakukan, jangan terlalu panjang berfikir sehingga tidak cukup punya energi ataupun kemauan untuk melakukan sesuatu yang lebih konkrit dan bermakna. Ketahuilah, bahwa seluruh entitas kehidupan, makhluk apapun akan berusaha memberikan arti dan makna melalui simbol. Karena manusia tidak bisa menangkap konsep yang terlalu luas dan holistik maka dia membutuhkan contoh yang konkrit. Memberilah, karena eksistensinya manusia diwujudkan dengan pemberian. Pemberian itu adalah simbol eksistensi dan wujud konkrit dari keberadaan dirimu. Esensinya lakukan itu dengan ikhlas. Keikhlasanlah yang sanggup menembus dinding dingding hati dan bersemayam pada hati nurani. Ketika nurani bertemu maka terciptalah simfoni persaudaraan nan fitri.

Comments (0)