
Hidup memang penuh dengan pilihan, ketika kita sudah memilih sekalipun maka akan ada pilihan atau tawaran lain yang "menggoda kita". Apapun lah, selama hidup masih dianugerahkan kepada kita, maka kebebasan memilih ada pada kita, dan semua pilihan pasti ada konsekuensinya. Jangan berfikir konsekuensi, karena itu hanya merupakan akibat, pertimbangkanlah sebabnya, niatnya atau motivasinya. Sepertinya alasan ini lebih murni dan dapat dipertanggungjawabkan di depan Dzat yang memberikan anugerah kehidupan kepada kita. Sebab kita memilih harus dihubungkan dengan pahala dan dosa, surga dan neraka, sampai dengan ridho Allah atau murka Allah. Kalau semua pilihan dan pertimbangan kita dapat menembus batas-batas fisik, dan lebih dominan pada pertimbangan immateri, boleh jadi ruh kita memang lebih dominan dari dorongan hasrat, syahwat yang biasa membelenggu kita sebagai manusia biasa.
Kasusku pun sangat simpel, diawali dengan perjalanan akademik saya yang tidak lebih dari satu bulan di program matrikulasi magister akuntansi UGM, pengumuman SIMAK UI keluar, dan hasilnya "Selamat, Anda diterima di Universitas Indonesia" begitulah teks yang tertulis dari situs https://penerimaan.ui.ac.id/id/user/result. Program yang sama, Universitas besar yang sama, akreditasi yang sama (katanya baik Program Maksi UI maupun program Maksi UGM sama sama memperoleh A dari BAN-PT)dan universitas yang mempunyai nama besar tapi besarnya hanya untuk Indonesia aja ya. Langsung saja saya sampaikan informasi ini ke pengelola program beasiswa S2 dan S3 BPPT yang dikelola oleh Pak Bonny, Pusbindiklat BPPT. Dia menjawab "Sulaeman, kalau kita sudah memilih pasti pilihan-pilihan lain akan datang untuk "menggoda" kita. Jangan tergoda, toh kalau sudah lulus cuma mendapat gelar baru, ujung-ujungnya naik pangkat dan kembali ke kantor untuk mengerjakan tugas rutin". Yah jawaban itu memang sangat tepat dan sesuai dengan kondisi dan situasi saat ini terlebih hanya sebatas pegawai seperti saya yang nyaris disorientasi. Saya memilih UGM lebih simpel dari itu, karena S-1 saya dari Fakultas Hukum, maka saya wajib matrikulasi. Program matrikulasi itu tidak di biayai dari beasiswa, jadi harus ditanggung secara pribadi bagi seseorang yang memperoleh beasiswa. Setelah mengetahui itu saya pun segera mencari informasi berapa biaya yang harus saya bayarkan kalau saya diterima di UI atau di UGM, mulai dari bertanya pada teman, googling web site, ngunjungi situs, tanya bagian akademik, sampai dapat Surat Keputusan Rektor perihal biaya matrikulasi, ternyata UI jauh lebih besar. Jadi saya harus memilih UGM. Tapi perlu diperhatikan niat saya memilih UGM baru sebatas kewajiban mencari ilmu saja, belum bisa mengetahui manfaat apalagi menembus sampai mengetahui keridhoan Allah sang pembuat kesempatan dan pilihan.
Semoga pilihan saya di ridhoi...amin
Kamis, Juni 09, 2011 |
Category:
My Experience
|
0
komentar

Comments (0)