Hari Rabu, tanggal 20 Oktober 2010, jam 07.10
Pada jam itu, sebagaimana biasa, saya sedang mengantarkan isteri menuju Bank Syariah Mandiri di Kantor Cabang Pembantu - Harmoni, tepatnya Gajah Mada. Setelah melewati Jalan Medan Meredeka Barat, tepatnya dilampu merah perdelapan menuju gajah mada (lihat peta)

ban motor mulai dirasakan kurang enak, dan isteripun merasakan hal yang sama, ternyata ban belakang motor kempes, mana berada ditengah jalan lagi. Sesegera mungkin kita menepi, dan menggiring motor berjalan mencari bengkel tambal ban. dalam radius 500 meter, tidak dijumpai tukang tambal ban satupun, padahal keringat sudah mulai mengucur. Tepat di bawah tangga penyebrangan bus way, ada seorang pemuda memanggil dan menawarkan jasa tambal ban. Saya yang posisinya sudah terengah-tengah, tanpa berfikir panjang langsung meng-iyakan. tawar menawarpun terjadi, tapi karena posisinya kalah, akhirnya kitapun sepakat dengan harga Rp. 7000. Setelah dibuka dia memperlihatkan ada 2 lubang yang cukup besar, dan masih ada sebuah paku yang menempel di ban belakang. saya cuma mengangguk-angguk. Tak lama dari itu, ada seorang lagi, sepertinya dari cara dia mendorong motornya, nasibnya tidak jauh dari saya. benar saja. bannya bocor, dan paku yang menempelpun ukurannya sama. Selama proses dia menambal ban saya, ada 7 motor yang nasibnya sama hanya dalam waktu 7 menit-an. Sesama korban ban bocor, akhirnya kita diskusi dan saling curiga kalau tukang tambal ban motor kita adalah sang penebar paku. Setelah selesai, saya pun memberi dia Rp. 7000. tapi, secara spontan dia bilang kurang, kan 2 lubang mas. jadi Rp. 14.000. Alamaaaaaaaak......
Bahan Renungan
Asumsi pertama, husnudhon style, sang penambal sangat baik hati dan fair. saya aja yang tidak mengerti dunia tambal ban kalau tambal itu memang per/lubang. Jadi Rp. 14.000 adalah harga yang wajar dan dia sangat membantu. daripada harus terengah-tengah nyari tambal ban di daerah jalan protokol seperti itu, pasti sudah gempor sebelum menemukan tukang tambalnya.
Asumsi kedua, suudhon syle, sang penambal adalah sang penebar paku. itupun masih saya beri apresiasi yang cukup. sang penjebak adalah sang pemberi solusi. toh dia sudah berpayah-payah menebarkan paku, menunggu korban, membetulkan ban korban, cuma harus rela merogoh kocek dan diliputi keadaan bahaya karena motor tiba-tiba oleng kehilangan keseimbangan. sekarang banyak sekali produk-produk yang kita nikmati tidak hanya menjebak dan membuat ketagihan, tapi juga tidak memberikan jalan keluar, atau kalaupun ada dipersulit. Marketing selalu ditarget tinggi, walhasil akhirnya banyak sekali penipuan yang dibungkus dengan produk/jasa. Coba deh direnungkan, produk-produk sekarang memang dikemas dengan strategi hampir tertutup jalan keluar setelah kita masuk.
Pada jam itu, sebagaimana biasa, saya sedang mengantarkan isteri menuju Bank Syariah Mandiri di Kantor Cabang Pembantu - Harmoni, tepatnya Gajah Mada. Setelah melewati Jalan Medan Meredeka Barat, tepatnya dilampu merah perdelapan menuju gajah mada (lihat peta)
ban motor mulai dirasakan kurang enak, dan isteripun merasakan hal yang sama, ternyata ban belakang motor kempes, mana berada ditengah jalan lagi. Sesegera mungkin kita menepi, dan menggiring motor berjalan mencari bengkel tambal ban. dalam radius 500 meter, tidak dijumpai tukang tambal ban satupun, padahal keringat sudah mulai mengucur. Tepat di bawah tangga penyebrangan bus way, ada seorang pemuda memanggil dan menawarkan jasa tambal ban. Saya yang posisinya sudah terengah-tengah, tanpa berfikir panjang langsung meng-iyakan. tawar menawarpun terjadi, tapi karena posisinya kalah, akhirnya kitapun sepakat dengan harga Rp. 7000. Setelah dibuka dia memperlihatkan ada 2 lubang yang cukup besar, dan masih ada sebuah paku yang menempel di ban belakang. saya cuma mengangguk-angguk. Tak lama dari itu, ada seorang lagi, sepertinya dari cara dia mendorong motornya, nasibnya tidak jauh dari saya. benar saja. bannya bocor, dan paku yang menempelpun ukurannya sama. Selama proses dia menambal ban saya, ada 7 motor yang nasibnya sama hanya dalam waktu 7 menit-an. Sesama korban ban bocor, akhirnya kita diskusi dan saling curiga kalau tukang tambal ban motor kita adalah sang penebar paku. Setelah selesai, saya pun memberi dia Rp. 7000. tapi, secara spontan dia bilang kurang, kan 2 lubang mas. jadi Rp. 14.000. Alamaaaaaaaak......
Bahan Renungan
Asumsi pertama, husnudhon style, sang penambal sangat baik hati dan fair. saya aja yang tidak mengerti dunia tambal ban kalau tambal itu memang per/lubang. Jadi Rp. 14.000 adalah harga yang wajar dan dia sangat membantu. daripada harus terengah-tengah nyari tambal ban di daerah jalan protokol seperti itu, pasti sudah gempor sebelum menemukan tukang tambalnya.
Asumsi kedua, suudhon syle, sang penambal adalah sang penebar paku. itupun masih saya beri apresiasi yang cukup. sang penjebak adalah sang pemberi solusi. toh dia sudah berpayah-payah menebarkan paku, menunggu korban, membetulkan ban korban, cuma harus rela merogoh kocek dan diliputi keadaan bahaya karena motor tiba-tiba oleng kehilangan keseimbangan. sekarang banyak sekali produk-produk yang kita nikmati tidak hanya menjebak dan membuat ketagihan, tapi juga tidak memberikan jalan keluar, atau kalaupun ada dipersulit. Marketing selalu ditarget tinggi, walhasil akhirnya banyak sekali penipuan yang dibungkus dengan produk/jasa. Coba deh direnungkan, produk-produk sekarang memang dikemas dengan strategi hampir tertutup jalan keluar setelah kita masuk.
Selasa, Oktober 19, 2010 |
Category:
My Experience
|
0
komentar

Comments (0)