Hari Sabtu, tertanggal 1 Mei 2010 jam 14.00 saya dan isteri saya, bergegas menuju Pasar Senen. Tujuan utamanya adalah mencari pasar buku eks kwitang. Sampai Dukuh Atas jalan mulai merayap, dan kibaran bendera-bendera serikat buruh mulai ramai memenuhi jalan. Tidak hanya buruh yang sibuk, melainkan juga polisi yang diberi tugas menjaga aksi buruh damai kali ini. Jalan menuju bundaran HI pun ternyata sudah di blok, di evakuasi kecuali buruh yang ingin berunjuk rasa di sekitar HI. Saya pun harus mencari jalan tikus dan ikut berdesakan dengan bikers lainnya.

Buruh harus berani mengekspresikan dirinya untuk menggapai kebahagiaanya. Buruh yang tertindas, buruh yang hak untuk sejahteranya belum terpenuhi, buruh yang sangat khawatir terhadap masa depan keluarganya, buruh yang dimarginalkan dalam struktur ekonomi dan kepemilikannya, buruh yang terpinggirkan secara hak-haknya tapi dituntut penuh dalam kewajibannya. Bila melihat rumus bahagia, memang buruh masih bisa berbahagia dan mendamaikan batinnya dengan melihat saudara-saudaranya yang masih menganggur dan tak tentu arah. Tapi persoalan keadilan, terlebih keadilan ekonomi hanya manusia yang berani mengejawantahkan dalam bentuk blue print ekonomi Indonesia. Keadilan Tuhan ada di tangan manusia, entah ada kooptasi dalam memahaminya apalagi dalam realisasinya hingga terasa ketidak adilan begitu lekat di tanah air tercinta ini. Siapa yang harus bertanggung jawab bila angka pengangguran terus meroket. Para rektor dan pemilik universitas begitu bersemangat untuk segera meluluskan mahasiswanya, tapi mereka tidak memikirkan dampaknya. Mahasiswa yang tidak lagi kritis tapi apatis, mahasiswa yang kini gemar bergulat dengan buku dan teori tapi mati hati dan empatinya. Kecerdasan sosialnya sudah dibungkam oleh dunia pendidikan. Kelahiran sarjana cerdas tapi tidak peduli sudah dibidani pada abad ini. Maka tidaklah heran ketika mereka berhasil dan sukses, hanya satu obsesinya yaitu membangun kastil-kastil dengan pagar berduri. Hunian rumah bergaya cluster, mega blok, super blok sudah menjadi hal biasa. Tidak puas, apartemen-apartemen baik yang bersubsidi maupun tidak menjadi sasaran kepemilikan berikutnya. Bila melihat kepemilikan terhadap rumah mewah dan apartemen tersebut, tidak jarang kita menjumpai masih banyak yang di atas namakan hanya satu nama, padahal di sisi lainnya, masih banyak nama pula yang belum memiliki tempat bernaung walaupun hanya sebatas rumah sangat sederhana sekali.  Belum lagi bila mau menengok angka kepemilikan kendaraan di Jakarta, rasanya panjang jalan dengan panjang kendaraan tidak lagi sebanding. Sayangnya mobil tersebut masih banyak yang dimiliki oleh orang-orang tertentu saja. Apabila ada sedikit keadilan saja, mungkin mobil-mobil ini sudah tersebar di kota-kota kecil lainnya. Sehingga kita tidak perlu merasakan macet yang berkepanjangan. Macet tidak perlu harus menjadi konsumsi. Bukankah implikasi dari itu semua tidak lain adalah pemborosan. Bahan bakar, freon, carbon monoksida ikut andil dalam mempercepat pemanasan global. Jakartapun semakin panas, karakter manusia pun semakin beringas. Potensi pertarungan kelas bourjuis dan kelas proletar sudah sangat terbuka. Kalangan bourjuis yang gemar memamerkan simbol-simbol kesuksesannya, sedangkan kalangan proletar yang gigih menggugat dengan demontrasinya. Indonesia khususnya Jakarta diambang perang saudara. Bila saja ada provokasi dan konspirasi, maka kerusuhan Mei sangatlah mungkin terulang kembali. 

Rehat sebentar untuk kritik sosial. (Kalau boleh jujur, rasanya ingin sekali terus berteriak dan menyuarakan setiap lini ketidak adilan di negeri ini). 

Setibanya di Pasar Senen, kami harus aktif bertanya di mana relokasi pedagang eks Kwitang. cukup dua kali bertanya untuk mengantarkan kami ke lantai 4 Proyek Senen yang dahulu pernah terbakar. Di sana pedagang eks Kwitang berkumpul, formatnya masih sama. Buku yang lama/jadul di obral. Mulai dari tiga ribu sampai dengan sepuluh ribu. Untuk buku barunya masih sama seperti yang dulu. Discount hingga 40 s.d 50 persen bila kita pintar menawarnya. Setelah membeli buku, kita berpidah ke Plaza Senen. Bangunan baru dengan format grosir cukup menjadi perhatian saya. Mulai dari grosir jam tangan, aksesoris hingga tas. Harganya pun cukup bervariasi dan lumayan murah. Perburuan di Pasar Senen pun diakhiri dengan sepiring siomay dan es teler. Emm... Lumayan enak

Setiba dirumah, saya pun beristirahat sejenak. Tepat pukul 15.15 kumandang adzan Ashar sayup-sayup terdengar. Ada sms masuk. Adalah sahabat saya, Pak Ibnu Hajar al-Hafidz memberitahu bahwa dia telah sampai di Kedai Bubur Sukabumi, sebelah pom bensin gandaria tempat kami akan bersua dan berkumpul. Bincang-bincang kecil pun dimulai, hingga akhirnya dia mengutarakan bahwa dia sudah mulai membangun Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an an-Nayiroh. Pondok Pesantren Penghafal Qur'an Yang Bersinar dalam bahasa Indonesianya. Dia mengutarakan bahwa obsesinya tidaklah mudah, banyak hambatan dan tantangan yang dialaminya. Selain kendala eksternal, dia juga mengalami kendala internal. Profesinya sebagai guru tahfidz di Sekolah Nurul Fikri cukup menyita waktu dan perhatiannya. Belum lagi jadwal privatnya. Sedangkan untuk pembangunan Ponpes tersebut, dia cuma berbekal proposal yang diajukan keberbagai instansi. Sepertinya dia butuh pendamping yang bisa merealisasikan mimpi-mimpinya. Benar dugaan saya, pada akhirnya dia pun mengatakan maksud dan keinginannya agar saya ikut membantu mencari pendamping hidupnya. Minimal sarjana dan punya hafalan Qur'an walaupun tidak seluruhnya. 

Tepat pukul 18.00 WIB, teman saya, Nurhayati sms bahwa dia sudah mengumpulan teman-teman untuk nonton film bareng Iron Man 2 di Hollywood KC yang dahulu bernama Planet Holywood-Gatot Subroto. 7 tiket telah dibeli dan free of charge alias gratis. Karena saya bersama isteri, dia membelikan saya 2 tiket untuk tayang jam 19.15. Terus terang saya baru kali pertama nonton di Holywood KC tersebut. Tidak ada yang istimewa untuk kelas bioskop 21. Memang kapasitas bioskopnya lebih besar, tapi untuk kebersihan dan kenyamanan, sepertinya pihak Holywood KC harus mulai berbenah deh. Adapun kesan saya terhadap film bergenre action high tech tersebut lumayan menghibur. Ada pesan yang ingin disampaikan melalui film tersebut. Dunia Barat dibangun dengan riset dan teknologi. Ilmu pengetahuan yang dapat terverifikasi melalui panca indra baru dapat dikatakan sebagai ilmu. Daya tarik dan antusias masyarakat dalam menanti setiap detil perkembangan peradaban begitu sangat nampak. Teatrikal Espektasi dan penghormatan kepada seorang peneliti digambarkan dengan sambutan yang hangat dan meriah ketika Tony Stark sang pencipta Iron memasuki podium. Banyak sekali pihak yang tertarik untuk memanfaatkan hasil penemuannya, terlebih Departemen Pertahanan dan Keamanan. Mungkin dalam kehidupan nyata pun di Barat seperti itu, dan ini sangat kontradiktif dengan perlakuan bangsa Indonesia terhadap dunia riset. Bangsa Indonesia lebih suka menjadi generasi instan, "Untuk apa melakukan riset, bukankah biayanya terlalu tinggi. Lebih baik beli saja", kalimat yang sering dilontarkan. Akhirnya perkembangan politik dan pemerintahannya pun cenderung konsumtif daripada produktif. Pukul 21.20 film berakhir. Semakin malam, semakin ramai. Jakarta tidak pernah sepi dari manusia-manusia yang mencari hiburan. Entah apapun motivasinya...

Comments (1)

On 5 Mei 2010 pukul 01.17 , sulaeman mengatakan...

biasa aja tuh