
Tepat pukul 10.00 WIB saya diajak oleh rekan kerja saya, Pak Edry Faidillah, untuk berkunjung dan menghadiri diskusi akbar yang sedianya dilaksanakan pada hari Jum'at. Ternyata ada Nara Sumber bernama Arvan Pradiansyah dengan pakaian batik dan berkacamata. Sekilas lihat, sepertinya saya pernah melihat pembicara yang sedang berpresentasi di depan Komisi 3 BPPT tersebut meskipun sebatas cover buku. Akhirnya saya teringat beberapa bulan silam ketika saya berjalan-jalan ke Gramedia Blok M. Yah memang dia adalah penulis best seller untuk buku-buku ber-genre motivator.
Sebelum dia memberikan 7 kuncinya, Pak Arvan menjelaskan perbedaan antara Sukses dan Bahagia. Orang sukses adalah orang yang berusaha mengejar mimpi-mimpinya, jadi gerakannya progresif. Karena mimpi itu tidak akan pernah stagnan, jadi setiap manusia tidak akan pernah puas. Sukses selalu menjadi outer atau hal-hal yang nampak. Manusia dituntut untuk bersikap wajar, semakin banyak prestasi maka sebanyak itu pula kontraprestasi yang dia dapatkan. Jadi hubungannya bersifat timbal balik (win win solution). Setiap orang yang mengejar win-win solution dalam kehidupannya, maka wajib mengerahkan seluruh potensi physic and mind secara bersamaan. Tapi dia pun mengomentari obsesi seseorang yang ingin meraih sukses tersebut, karena tingkatan ini masih tingkatan elementer (standard). Tingkatan tertinggi adalah seseorang yang bisa melakukan sesuatu dengan mengintegrasikan tiga potensi yang dimiliki, yaitu physic, mind dan soul. Ketiga unsur inilah yang akan mengantarkan orang menjadi pribadi yang bahagia dan unggul, karena ada unsur yang terpenting dalam bekerja yaitu keikhlasan dan ketulusan. Bekerja untuk memberi dan berbagi bukan bekerja untuk diberi karena berprestasi. Karena Allah tidak akan berlaku tidak adil, apalagi dholim. Lalu dia berkomentar bahwa kebanyakan manusia tidak dapat menggapai dua level tersebut, karena terjerumus dalam kubangan bekerja hanya dengan fisik. Bekerja tapi konsentrasinya dan pikirannya ke mana-mana. Sungguh sangat berat bekerja hanya menggunakan potensi fisik, tapi kenapa manusia banyak sekali yang menjalaninya. Kalau boleh berkomentar ada paradox dalam terma sukses dan terma bahagia. Ketika seseorang ikhlas dan selalu positif thinking dalam kehidupannya, apakah hal ini akan merubah keadaan kita kalau kita sendiri tidak minta feed back yang wajar untuk segala yang kita usahakan. Dalam kehidupan, yang mengatur adalah manusia. Ada banyak campur tangan manusia. maka keadilan yang coba dikontruksipun keadilan versi manusia. Pernahkah kita renungkan kalau setiap manusia meskipun prestasinya sama tapi reward yang didapatkan tidaklah sama. Mungkin memang ini keadilan dari Tuhan, tapi apakah kita harus menerima keadaan ini dengan cara selalu melihat ke bawah meskipun kita sendiri tidak cukup apalagi untuk mencukupi orang-orang yang kita kasihi. Agama memberikan jalan keluar untuk mengantisipasi permasalahan akut ini, ada kekuasaan untuk mengambil sebagian kelebihan dari orang yang mendapatkan kelebihan pendapatan untuk dibagikan kepada orang yang mengalami kemalangan karena adanya pemiskinan secara sistemik. Begitupun negara, maka kepala negara selalu wakil Tuhan agar bisa menebarkan keadilan melalui pengambilan pajak. Masih dibutuhkan tangan-tangan kekuasaan untuk membumikan keadilan di negara ini.
Pak Arvan pun memberikan 4 tipologi manusia berdasarkan kontribusi dan reward yang diharapkan:
1. Kontribusi sedikit dan mengharapkan reward penuh (tipe manusia tidak wajar dengan paradigma win-lose solution)
2. Kontribusi sedikit dan mengharpankan reward sedikit (tipe manusia wajar dengan paradigma lose-lose solution)
3. Kontibusi penuh dan mengharapkan reward penuh (tipe manusia wajar dengan paradigma win-win solution) dan terakhir
4. Kontribusi penuh tanpa mengharapkan reward (tipe manusia ikhlas yang mengharapkan keadilan dari Tuhan, manusia seperti ini mempunya paradigma lose-win). Hemat saya agak membahayakan, meskipun Tuhan tidak pernah berlaku dholim kepada hambanya, tapi manusia bisa jahat kepada manusia lainnya. Dan manusia jahat ini harus dihilangkan niatnya.
Setelah itu Pak Arvan baru memasuki pembahasan The 7 Laws of Happiness - nya.
Dia memaparkan ada 7 kunci meraih kebahagiaan:
• Katagori Intra personal skill
1. Sabar
2. Sukur
3. Simpel/Sederhana yang masuk katagori intrapersonal skill
• Katagori Interpersonal skill
4. Cinta
5. Memberi
6. Memaafkan dan terakhir
• Katagori spiritual skill
7. Berserah diri
Sabar
Ada ilustrasi menarik yang disampaikan oleh Pak Arvan, dia mengatakan dan sejarah membuktikan kalau Kolonel Sanders merupakan orang yang sangat sabar. Ratusan penolakan sudah dialaminya, tapi dia tidak pernah menyerah. Kalau saja Kolonel Sanders menyerah ketika kegagalan yang ke 99, maka tidak akan pernah ada Kentucky saat ini. Begitupun Chicken Soup. Tapi melihat fenomena ke-Indonesia-an, ada realita yang membuat kita tergelitik, ternyata quick count menjadi pilihan untuk para politisi yang ingin cepat melihat hasil. Mereka begitu menikmati dan segera menggelar pesta kemenangan meskipun baru sebatas pooling versi quick count. Peduli setan dengan proses, yang penting hasil. Mungkin sudah zamannya era instan. Kunci sukses orang besar yang pada akhirnya menjadi tokoh adalah sabar. Kalau saja kita tidak bersabar, dan ingin cepat-cepat memetik hasil berupa kesenangan, kemewahan maka tidak akan pernah ada kemenangan. Karena seseorang yang berhasil adalah seseorang yang sanggup menahan dirinya untuk tidak terperangkap dalam kesenangan dan perbuatan sia-sia.
Mana yang Anda pilih antara menikmati proses atau menikmati hasil?
Sukur
Sukur elementer adalah ketika seseorang bersukur karena ....contohnya bersukur karena dapat nilai A bagi mahasiswa, dapat promosi jabatan bagi pegawai, dapat untung besar bagi pedagang. Sukur jenis ini, semua manusia bisa karena biasa. Sukur yang tertinggi adalah bersukur walaupun/meskipun ....contohnya bersukur walaupun gagal, bersukur walaupun rugi, bersukur walaupun tidak cantik. Karena segala baik menurut kita belum tentu baik menurut Alah, begitupun sebaliknya. Ilustrasi Ada seorang petani yang mempunyai seekor kuda putih, suatu ketika kuda kesayangannya tersebut hilang. Dalam waktu singkat, tetangga petani tersebut datang dan ikut berempati atas kehilangannya. Reaksi yang dikeluarkan oleh petani tersebut justru sebaliknya, petani tersebut tetap dalam keadaan tenang dan bersukur. Setelah beberapa hari kemudian, ternyata kuda putih tersebut kembali dengan membawa segerombolan kuda hitam liar masuk ke kandang petani tersebut. Dalam waktu singkat petani tersebut menjadi seorang kaya di desanya dan sebagaimana biasanya tetangga petani itu pun kembali datang untuk menyatakan turut berbahagianya atas anugerah yang didapat petani tersebut. Sikap yang dimuculkan oleh petani itu pun sama seperti ketika dia mengetahui bahwa kudanya hilang, tetap bersukur apapaun yang diberikan oleh Tuhan. Karena baik buruk menurut manusia belum tentu sama menurut Tuhan.
Ada ilustrasi menarik dari yang bisa dikutip dari filsafat bahasa inggris, kenapa kejadian-kejadian yang telah lampau disebut history (he story), dan mengapa kejadian yang akan datang tidak dapat diketahui oleh siapapun disebu mystery. Sedangkan kejadian pada saat ini di sebut present (gift ataupun hadiah). Maka bersukurlah sekarang, karena sekarang di mana kita hidup adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepada kita. Sebagaimana tulisan yang biasa kita lihat di pintu-pintu Metro Mini dan Angkot, "Hari ini bayar, besok gratis". Karena sejatinya tidak ada hari esok, yang ada hanya hari ini.
Maka sukuri apa yang ada dan selalulah melihat ke bawah agar kita menjadi orang yang pandai bersukur.
Simpel (Sederhana)
Sebenarnya segala masalah yang ada didunia ini tidak akan melebihi kemampuan seorang yang memikulnya. Akan tetapi cara pandang (mind set) seseorang dalam menyikapinya itu yang berlainan, maka diperlukan teknik atau seni menyikapi setiap masalah yang ada dihadapan. Setiap persoalan tidak lain adalah untuk melatih kita agar dapat berbuat yang lebih baik dan bijak. Tuhan pun telah mendesain otak kita dengan sifat lupa, maka tidak akan ada persoalan yang tidak bisa dilupakan, semakin banyak usaha kita untuk melupakan semakin banyak pula usaha kita untuk mengingat. Maka biarkan setiap persoalan mengalir dengan tanggung jawab kita untuk menyelesaikan.
Cinta (Kasih)
Ada fenomena menarik yang dapat kita amati dari beberapa buku yang diterbitkan di Indonesia, bahkan di dunia. Buku-buku berjudul "bagaimana agar dicintai suami", "bagaimana agar dicintai isteri", "bagaimana agar disayang atasan" dan lain-lain. Yang menarik adalah buku-buku tersebut selalu menjual kata kerja pasif yaitu agar di bla bla bla. Bukankah kata kerja pasif ini menuntut agar orang lain berbuat sesuatu untuk kita. Maka tidaklah heran kalau bangsa Indonesia ingin sekali menjadi tuan yang dilayani bukan yang melayani, Suami yang ingin dicintai bukan mencintai, Atasan yang ingin dihormati bukan menghormati. Implikasi dari itu semua adalah etos kerja yang rendah, kemampuan sebagai objek bukan subjek, orang yang mau menuntut bukan bertanggung jawab. Ada fenomena menarik yang muncul dalam alam demokrasi Indonesia, banyak klaim dan pengatasnamaan Tuhan untuk memaksakan sesuatu kehendak terhadap orang, atau bahkan kelompok yang berbeda pendapat.
Memberi
Cinta bukanlah cinta sebelum dipersembahkan. Memberi tidak dapat dipisahkan dari cinta. Bila memberi lahir bukan dari rahim cinta maka yang mucul bukan ketulusan, akan tetapi kemunafikan atau bahkan investasi sebagaimana pandangan kapitalis. Kita banyak melihat fenomena yang muncul belakangan ini di alam Indonesia, ketika mendekati pemilu, maka banyak partai politik seakan-akan berubah menjadi sinterklas, sang juru selamat, seorang yang dermawan yang memberikan sumbangan, santunan, bantuan atas nama partai politik tertentu. Tujuan mereka tentu bukan karena cinta, karena cinta hanya mengenal memberi tanpa mengharap kembali. Mereka menawarkan bantuan dengan label partai politik. Implikasi terbesar dari itu semua adalah pemborosan uang negara bahkan cenderung korup ketika menjabat. Bagaimana mungkin mereka tidak mengharapkan kembalinya uang, ataupun kapital ketika mereka memberi bukan atas nama cinta. Ketika ada niyat bahkan obsesi untuk mengeruk uang rakyat, seharusnya negara dengan kekuasaannya dapat menghentikan niyat ini.Buatlah sistem yang terbaik, sistem atas nama cinta, sistem yang tumbuh alamiah bukan konspirasi.
Memaafkan
Untuk menggapai bahagia, salah satu kuncinya adalah memaafkan. Semakin banyak kita memaafkan semakin tenang hati kita. Dengki atau pun dendam tidak akan pernah dapat membahagiakan kita. Sesakit apapun kita disakiti, ataupun dianiaya, memaafkan menjadi jalan terbaik untuk meraih kebahagiaan. Kalau saja kita tidak dapat memaafkan orang lain atas kesalahannya, maka hati kita tidak akan pernah tenang dan selalu resah. Usaha mendamaikan hati yang resah ini dengan cara memaafkan.
Memang agak sulit untuk diterapkan di Indonesia, karena masyarakat Indonesia telah terbiasa dengan budaya saling menyalahkan. Sebagaimana biasa kita melihat para orang tua yang selalu menyalahkan kodok ketika anaknya jatuh dan menangis meskipun para orang tua tersebut sangatlah mengetahui dan sadar kalau tidak ada kodok yang ada di sekitar anak tersebut. Maka tidaklah heran kalau anak tersebut tumbuh dan berkembang otak kanannya dengan pelajaran harus menyalahkan sesuatu bila terjadi sesuatu, tapi bukan salah saya. Budaya kambing hitam, budaya menyalahkan, budaya lempar tanggung jawab menjadi sarapan yang biasa disajikan dan ditayangkan di siaran berita tanah air kita. Tanpa sadarpun akhirnya membentuk budaya yang terus melembaga dan tumbuh berkembang dalam alam bawah sadar dan alam sadar manusia.
Berserah
Berserah menjadi suatu kewajiban manusia dalam menggapai kebahagiaannya. Karena tidak semua persoalan dapat diselesaikan oleh tangan-tangan manusia. Tapi Tuhan tidak akan pernah melakukan pekerjaan yang dapat dilakukan oleh tangan-tangan manusia. Maka ada doa yang diajarkan oleh rasul agar meminta yang terbaik menurut pandangan Tuhan. Ketika kita berupaya optimal dan maksimal, apapun keputusannya, apaun hasilnya....itu adalah yang terbaik untuk kita.
Kenapa berserah diletakkan diakhir, karena harus berusaha terlebih dahalu baru kemudian berserah diri. Tuhan hanya meneruskan apa yang kita kerjakan. Tidak akan ada pernikahan bila kita tidak mencari pasangan, tidak akan ada rezeki bila kita tidak mencari.
The 7 Laws of Happiness ini saya tuliskan sesuai bahasa yang saya bisa. Mohon maaf bila terjadi kesalahan dalam mereduksi The 7 Laws of Happiness.
Anda adalah makhluk Tuhan yang paling beruntung, Anda harus berbahagia sekarang.
Selamat berbahagia sahabat...
Lihat Cover Buku-nya, semoga menjadi bahan referensi untuk menggapai kebahagiaan.
Kamis, April 29, 2010 |
Category:
My Experience
|
0
komentar

Comments (0)