Hari Minggu, 20 Juni 2010 jam 08.00 WIB saya mengantar isteri ke Point Square Lebak Bulus menggunakan sepeda motor RX King dengan No. Pol B 6494 SCJ. Bukanlah suatu kebiasaan apalagi rutinitas bila kami harus bersusah payah memarkir motor dalam ruangan parkir B2 yang masih gelap gulita karena mall baru beroperasi aktif jam 10.00 WIB. Tujuan dan fokusnya cuma satu, yaitu mengikuti pelatihan Test Potensi Akademik yang memang sedianya rutin diselenggarakan pada hari sabtu atau minggu mulai dari pukul 08.30 s.d 16.30. Entah mengapa GPS Jakarta selaku penyedia jasa pelatihan Psikotes, TPA/TKU/Logika, Try out Psikotest memilih lokasi di Mall Point Square Lantai M, yang jelas ada sedikit kesulitan untuk mencari apalagi mendapatkan lokasi tersebut. Setelah bertanya pada satpam, kita diarahkan ke lantai 5 dengan menggunkan lift barang. Dalam waktu beberapa menit saja, kita telah sampai lantai 5, lantai yang masih perlu renovasi dan penyempurnaan di sana sini. Yang terlihat hanya ruangan yang belum jadi dan masih kotor. Rasa penasaran dan keyakinan bahwa petunjuk satpam itu benar mengantarkan kami untuk memeriksa setiap tempat yang berada di lantai 5, ternyata yang hanya ada 3 ruangan yang sudah bisa dihuni dan memang ada pengelolanya, yaitu inul vizta, billiard dan kantor notaris. Kesimpulannya petunjuk satpam meleset. Lalu isteri segera menghubungi kontak GPS Jakarta, dan kita diminta untuk turun satu lantai, yaitu lantai M, dan setelah pintu lift terbuka, para peserta sudah banyak yang mengantri untuk daftar ulang.

Dari ruangan dan personel GPS yang ada, efisiensi yang diterapkan sangat tinggi. Satu pengajar dan 2 staf administrasi. Adapun ketersediaan bangku peserta untuk satu kali pelatihan dalam standard operating procedure GPS hanya sebanyak 50 peserta. Entah kenapa pada hari minggu itu Pak Koko melepas hingga angka peserta sampai pada 65 orang. "Itupun sudah ditolak, kalau tidak bisa sampai ratusan", kata pak Koko. Luar biasa, 3 orang bisa mengelola jasa pelatihan TPA, dengan Rp. 200.000,00/orang/peserta. Kalau anda mau menghitung, silahkan dikalikan 65 orang. Dalam sehari saja sudah bisa meraih kocek sebanyak itu (jangan lupa dipotong biaya operasional). Yang jelas saya cukup salut dengan peluang yang berhasil ditangkap oleh Pak Koko. Terlebih lagi peluang itu semakin besar, karena TPA/Psikotest memang sekarang semakin meluas dan digunakan untuk memasuki perguruan tinggi dan sekolah. Jadi TPA/Psikotest tidak lagi konsumsi dunia kerja, tapi sudah menjadi kebutuhan dunia akademis hingga tingkat Sekolah Menengah Pertama.

Dalam ranah potensi manusia, harus diakui bahwa tidak hanya intelektual yang dianggap penting, tapi juga emosi dan juga spiritual. Berbagai penelitian dan pengembangan sudah mengakui bahwa perkembangan emosi dan spiritual mempengaruhi integritas dan kapabilitas seseorang. Perkembangan ilmu pengetahuan telah menetapkan standar pengukuran intelektual, maka munculah program pelatihan untuk meningkatkan intelektual seseorang sampai ketingkat standar, kalau tidak ingin disebut down syndrom. Tapi pengukuran emosi dan spiritual belum mendapatkan posisi seperti layaknya intelektual. Ada pengaruh ekperimental an sich yang didominasi oleh kalangan positivism. Aliran inipun berkembang pada mulanya dipelopori oleh kalangan ilmuwan ilmu pasti atau eksakta. Segala sesuatu harus terukur, maka pemeriksaan bersifat matematis dan analitis. Sayang sekali ketika dunia telah sepakat bahwa emosi dan spiritual punya posisi seimbang bahkan lebih penting dibanding kecerdasan intelektual tapi tidak mendapatkan standar pengukurannya sendiri apalagi pelatihan sebagaimana layaknya TPA/Psikotest. Bukankah kita menginginkan seseorang yang tidak hanya pintar, tapi juga matang dari sudut emosi dan spiritual. Seorang pintar dan juga sholeh, atau lebih tepatnya sholeh dan juga pintar. Biar Indonesia lebih damai dengan kehadiran orang-orang baik dan jujur. Saya pun belum mempunyai prototype manusia yang memenuhi ketiga unsur tersebut, IQ, EQ dan SQ yang tinggi. Mungkinkan dia manusia tanpa cela bahkan dia manusia sempurna atau yang biasa kita sebut insan kamil. Who knows....

Bravo GPS Jakarta.

Comments (0)