Pada hari sabtu, tanggal 8 Oktober 2011 saya dan isteri janjian dengan salah seorang teman saya, Abdul Basyir Hamim beserta isterinya, lebih tepatnya isteri saya yang janjian karena ada urusan bisnis kecil-kecilan, obat herbal. Kita bertemu di Blok M Square setelah ashar dan transaksipun berlangsung dalam waktu yang relatif singkat. Obrolan santaipun akhirnya mengalir dan sampai pada tema anak dan keturunan. Memang harus saya akui, kami pun selaku pasangan yang sudah tiga tahun belum dikaruniai momongan rasanya sudah sangat merindukan kehadiran bayi mungil di tengah-tengah kami. Hingga tahun ketiga inipun kami belum melakukan medical care, kami masih memilih untuk tetap sabar dan tawakal menunggu sambil mengkonsumsi obat-obat herbal. Terlebih usia isteri saya yang masih relatif muda, 25 tahun pada tahun ini. Tapi saran dari Basyir untuk datang ke Po Cece selaku ahli pengobatan alternatif spesialis bagi orang yang kesulitan punya anak menjadi pertimbangan yang langsung kami diskusikan pada malam harinya. Keputusannya besok kita harus mencoba.

Pada hari minggu tanggal 9 Oktober 2011, setelah selesai semua urusan, kamipun bergegas menuju kediaman Po Cece. Melalui petunjuk sms dari Basyir yang berisikan alamat Po Cece di Jl. Pancaron Barat (Duren Tiga), ikutin mikrolet 42, sampai di Indomart yang berhadapan dengan Alfamart terdapat gang menuju Sekolah Menengah Pertama 28 Oktober. Dengan beberapa kali bertanya kami pun sampai di rumah Po Cece. Sesampainya di rumah, saya tidak menyangka kalau rumahnya sangat biasa dan hampir tidak terkesan bahwa rumah tersebut sebagai tempat untuk melakukan medical alternatif, karena di sana tidak ada kamar praktik yang khusus untuktreatment kepada pasien. Tidak lama menunggu, akhirnya keluarlah wanita yang sepertinya sudah tua, tapi dari mukanya tampak segar dan bersih. Aksen betawinya sangat kentara (kalau mau pakai gaya betawi), dia langsung bertanya "dari siapa tahu di sini?", kamipun spontan jawab "dari teman, Abdul Basyir dan isterinya, Ria yang kemarin datang juga ke sini". "Oh...mang dah berape lame belum hamil-hamil?", kita jawab "tiga tahun", "kok seperti masih orang pacaran...". Kitapun tersipu-sipu. Diapun langsung meminta kami untuk masuk ke kamar, ada sebuah kamar di depan lengkap dengan tempat tidurnya, dia pun meminta isteri saya berbaring dan meminta saya untuk membeli sebotol air aqua (air yang mudah dibawa pulang). Kebetulan di samping rumahnya ada warung kecil yang jual air mineral, jadi tidak perlu pergi jauh untuk mendapatkan air mineral tersebut.

Sambil mengurut, dia memperkenalkan dirinya kalau nama sebenarnya adalah Ibu Aisyah, 71 tahun. Subhanallah, sudah 71 tahun tapi masih terlihat sehat dan bugar. Setelah mendiagnosa dia bilang kepada isteri "peranakannya bagus, cuma miring aja, jadi kalau sudah campur, akan keluar lagi. wah bakal punya banyak keturunan ini, rahimnya panjang". Saya sendiri kurang begitu faham, itu mungkin istilah buat dia saja. Lalu dia bilang juga kalau di sini sudah ratusan orang-orang yang berhasil, tapi semua itu rezeki-rezekian termasuk orang Australia yang datang kerumahnya untuk memperoleh keturuan. Terus saya spontan bertanya, "kok orang Ausralia sampai tahu?" Kan di sini sudah terbiasa diliput sebagai pengobatan alternatif bagi orang-orang yang kesulitan mempunyai keturunan...Ooohhhh...Setelah isteri saya selesai, giliran saya yang diperiksa kecukupan sperma dan kualitasnya, dia bilang "Bagus, malah banjir". Setelah selesai semua, diapun mendoakan air mineral yang baru saja saya beli, dan dia bilang "diminum berdua ya!, dan datang lagi bulan Oktober ya, itu sudah hamil"...Kitapun terdiam dan spontan mengucapkan "Amiiin". Kok bisa yakin sekali Po Cece itu, padahal saya tinggal di Jogja, isteri di Jakarta, interaksi dan keintiman kita memang agak sedikit berkurang, dan mencari waktu yang tepat pun jadi lebih sulit. Semoga semua bukan menjadi alasan untuk memperoleh keturunan. Allah Maha Tahu dan Maha Pemurah, bila memang sudah saatnya amanah itu dipercayakan pada kami, maka kamipun selaku yang dipercaya akan merawat dengan sebaik-baik usaha kami.

Setelah selesai semua, ketika kami keluar ternyata sudah terdapat beberapa orang yang mengantri di ruang tamu, dan saya melihat ada yang sedang hamil besar, ada yang sudah punya anak, macam-macam deh. Sambil keluarpun saya sempatkan diri bertanya, "kemarin juga susah punya anak ya?" Lalu dia jawab "Saya tahun ke dua belum punya hamil juga, setelah datang ke sini, eh bisa hamil"."Alhamdulillah..."



Laron...
mengapa dirimu kerap datang ketika hujan menjelang
mengapa dirimu menghampiri lentera-lentara dan menutupi cahayanya
apakah kau mencari cahaya atau kau ingin bertemu inti cahaya
mana yang lebih kau rindu bersama cahaya sejenak dan dirimu sulit menjejak
ataukah bersatu bersama inti cahaya dan dirimu pun lenyap

Begitu cepatnya kau mengepakkan sayap
hanya untuk sekedar bertahan dibarisan terdepan dalam dekapan cahaya
berhimpitan...berdesakan hingga sayapmu pun patah
satu demi satu berjatuhan, berserakan
dan kau pun terjerembab jatuh menuju tanah
tidakkah kau menyesal wahai sang pencari cahaya...

tidak...
Hamba tidak pernah menyesal
usaha hamba telah maksimal dipenghujung senja
hamba tahu bahwa hidup hamba hanya sebatas hujan
hamba tahu kemana harus berlabuh dan menetap
hamba sudah bertemu Sang Pemilik Cahaya kehidupan
bersamanya hamba berlabuh menuju kedamaian

bila al-Quran adalah cahaya kehidupanmu
maka jangan kau tinggalkan
bila orang-orang solih adalah pantulan dari Inti Cahaya
maka jangan kau sia-siakan

Mereka adalah pintu gerbang menuju Inti Cahaya
Inti Cahaya yang kita idam-idamkan
untuk larut dan melebur bersamanya
dalam kehdidupan setelah kematian
Senin, Tanggal 9 Juli 2011
Rambut sudah melebihi kerah baju jadi sudah pasti sering merasa gerah. Disamping itu isteri sudah sering menyarankan agar segera memangkas rambut. Semula inginnya dipermak di jakarta, di kampung dukuh ada tempat potong rambut langganan dengan biaya 10 ribu, tapi dikarenakan tiap jalan menuju kampus selalu membaca papan reklame kecil putih di samping kanan jalan bertuliskan "POTONG RAMBUT AYIS" tanpa disadari kaki berbelok dan masuk ke tempat potong rambut. Tempatnya kecil, cuma ada satu bangku service dan sudah dapat dipastikan pasti cuma satu tukang cukurnya. Setelah duduk, sang tukang cukur segera menghidupkan lampu, kipas angin dan tape. Lagu barat, bob marley dan beberapa lagu klasik barat segera mengalun dan membuat suasana semakin rilex. Sempat kaget dan bertanya-tanya kok bisa tukang cukur menyukai lagu barat.

Tak beberapa lama, si mas sambil memotong rambut melemparkan pertanyaan keakraban, "ambil S2 ya mas?" Mungkin karena muka saya yang sudah kelihatan tua makanya dia bertanya seperti itu dan dengan santai saya jawab "iya". Trus dia tanya lagi, "loh memang dulunya S-1 nya apa dan di mana". Saya jawab santai "Undip Semarang, fakultas hukum". Ternyata pertanyaan itu hanyalah pembuka menuju gerbang kehangatan, dia sangat memahami benar kampus UGM dan bidang ilmu-ilmu ekonomi. Saya semakin penasaran dan ingin bertanya tapi agak ragu, "mas dulu kuliah juga ya". Dia jawab "saya alumnus UGM, sastra sejarah". Oh pantas dalam batinku, "tapi kok jadi tukang cukur, mang ga ingin nyoba kerjaan lainnya". Lalu dia bercerita panjang lebar kalau dia masih kuliah dengan biaya universitas di salah satu STIE di Semarang, ambil Magister Management. Pantas saja saya lihat dibangku antrian ada berkas dengan cover Tesis yang cukup tebal. Saya tanya lagi, "berarti mas ini dosen yang nyambil sebagai tukang cukur ya", eh dia jawab bukan, "Saya tukang cukur yang nyambi sebagai dosen. Saya mengajar diajak dari langganan-langganan saya yang nyukur di sini". Dalam hati saya baru kali ini di cukur oleh candidate master Magister Management. Luar biasa...

Nasib atau takdir siapa yang dapat menentukan bila bukan kalian semua. Seorang alumnus UGM saja dengan amat senang menerima nasibnya sebagai tukang cukur yang dia fahami sebagai satu fase yang harus dilalui. Takdir baginya bukan ketetapan yang bersifat final, karena setiap manusia yang hidup pasti mengalami berbagai macam ketetapan. Setiap ketetapan hanya merupakan sequel panjang kehidupan yang ending nya tidak ada yang tahu. Jadi bagaimanapun final dari suatu takdir adalah misteri, dan karena misteri itulah kita terus berharap dan bersemangat kalau kehidupan esok pasti jauh lebih baik. Jangan pernah under estimate terhadap orang lain atau pekerjaan orang lain. Semua manusia itu selalu menginginkan yang terbaik buat dirinya, yang terindah untuk keluarganya dan orang-orang yang dicintainya. Kalau kalian merasa lebih beruntung, bukan makian, umpatan bahkan cibiran yang keluar dari mulut kalian, tapi ucapan yang penuh sukur, hati yang penuh simpati bahkan empati dan sikap yang mengasihi kepada orang lain yang tidak seberuntung kita. Sejatinya Tuhan menetapkan perbedaan itu untuk menawarkan kepada siapapun agar lebih bermakna.
Bila kita mau meluangkan sedikit saja waktu dan iseng melihat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia, maka tiga komponen besar selalu ada menyertainya, yaitu: (1) Pos Penerimaan, (2) Pos Pengeluaran, dan (3) Pos Pembiayaan. Dari ketiga pos tersebut saya yakin dua pos sudah sangat jelas tanpa perlu penjabaran yang lebih rinci, mungkin yang mengganjal di mata dan memicu pertanyaan adalah adanya Pos Pembiayaan. Kok bisa sih pos ini muncul dalam APBN negara Indonesia. Ternyata pos pembiayaan muncul dikarenakan lebih besarnya pos pengeluaran dibandingkan pos penerimaan. Dengan demikian, mau tidak mau, suka tidak suka, nerima tidak nerima, itu adalah kenyataan yang harus diterima. Penerimaan yang didapat dari sektor pajak dan non pajak (khususnya penerimaan migas) tidak dapat menutupi seluruh biaya yang dibutuhkan. Manajemen keuangan di Indonesia selalu kandas dengan menambah hutang. Tahun demi tahun, periode demi periode, presiden demi presiden, semuanya sama dan berobesesi menambah hutang negara. Kenapa negeri ini harus dikelola mengikuti pepatah "lebih besar pasak daripada tiang". Ironi sekali setiap tahun selalu gali lobang tutup lobang untuk bayar hutang. Dahulu senang sekali dengan pinjaman luar negeri dengan dalih pinjaman lunak, bunga kecil, dan masa cicilan panjang. IMF, Bank Dunia, IDB sudah pernah dicoba, tapi apa yang didapat, beban hutang dan bunga semakin besar. Sudah bosan dengan pinjaman luar, beralih ke pinjaman dalam, mulai dari ORI, sukuk (alias surat utang negara), lagi-lagi negeri ini dibangun dari pinjaman. Alih-alih lebih baik pinjaman dalam negeri agar pembayaran cicilan dan bunga hanya jatuh dan beredar di Indonesia, BI malah sebaliknya mengumumkan kekhawatirannya kalau uang yang masuk ke bank sudah semakin banyak dan sebaliknya sektor produksi yang riel tidak berjalan. Bayangkan gundukan uang yang berada di BI dan institusi perbankan lainnya melebihi kapasitas sebaliknya masyarakat dan sektor produksi lainnya malah enggan memutar uang dalam perekonomian riel. Kalau sudah terjadi situasi dan kondisi tersebut, maka pahlawan yang sangat tepat zaman ini adalah Melinda Dee. Biar saja orang dan badan usaha yang kaya takut menyimpan uangnya di bank dan lebih memilih memutar uangnya dalam sektor riel.

Ada yang salah dalam negeri ini. Negeri yang boros, bangsa yang tamak dan tidak pernah merasa cukup. Kenapa pemerintah ini tidak ingin menabung, kenapa pemimpinnya gemar sekali berutang, kenapa rakyatnya tidak produktif. Untuk apa kastil-kastil megah di bangun di pusat kota kalau ternyata pembiayaannya dari hutang, untuk apa wajib belajar 9 tahun bila ternyata harus membayar dengan dalih Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI), dan untuk apa pelayanan kesehatan bagi rakyat miskin bila ternyata definisi miskin menjadi sangat sulit dipenuhi. Hampir semua presiden berkampanye dengan isu wajib belajar 9 tahun, fasilitas kesehatan bagi rakyat miskin, bantuan lansung tunai. Jelas isu-isu tersebut sangat menyentuh rakyat yang notabene nya sudah sangat miskin. Tapi kemiskinan rakyat terjadi karena negaranya yang miskin. Negara yang tidak punya tabungan. Negeri yang sarat dengan hutang. Apakah pernah ada presiden yang berkampanye dengan program melunaskan pinjaman atau minimal mengurangi pinjaman dan bunga. Pasti jawabannya belum kan. Yah mungkin karena setali tiga uang dengan sistem politik pemicu hutang. Partai-partai yang tidak punya badan usaha selalu kebingungan ketika sudah mendekati masa-masa kampanye. Uang dari mana untuk memenangkan pemilu nanti. Maka tidak heran kalau partai-partai besar selalu minta jatah departemen besar dan strategis. Semua rakyat Indonesia sudah sangat maklum kalau departemen yang dipilih oleh partai besar adalah departemen yang punya APBN besar. Maka tidak aneh juga kalau pos pengeluaran selalu lebih besar, karena masing-masing departemen berlomba membuat anggaran yang sangat besar tanpa harus peduli dengan penerimaan negara. Ujung-ujungnya perampokan uang negara demi memenangkan kursi legislatif dan presiden dari partainya. Seperti lingkaran setan yang sulit diputus, pos pembiayaan sangat sulit dihapuskan.

Sedikit pesan dari saya...
Kalau pendapatan negeri ini tidak banyak, cobalah hidup dan ajarkan kepada kami kehidupan berkesehajaan. Belajar merasa cukup dengan apa yang didapatkan. Saya yakin kita sebenarnya siap untuk hidup bersahaja, tinggal Anda selaku pemimpin memandu kami menuju kehidupan yang bebas dari lilitan hutang. Mulailah bermimpi meninggalkan warisan kepada generasi mendatang, jangan takut dengan obsesi merubah pos pembiayaan menjadi pos tabungan negara. Rasanya kita semua bertanggung jawab untuk memberikan kehidupan yang lebih baik untuk generasi mendatang bukan.
Hari Jumat, tanggal 1 Juli 2011
Seharusnya sejak kemarin saya sudah kembali ke Jogja, tapi untuk berangkat ke stasiun atau cek ketersediaan tiket perjalanan ke Jogja selalu membutuhkan effort yang luar biasa. Ada rasa malas, hampa, atau bahkan sedih ketika harus meninggalkan Jakarta. Mungkin masalah ini hanya terjadi bagi diri saya sendiri selaku orang yang selalu ingin dekat di tengah-tengah keluarga. Di Jakarta saya lihat kedua orang tua saya yang sudah mulai rapuh tapi masih tetap harus bekerja karena kecintaannya pada keluarganya, di Jakarta saya melihat isteri saya yang sangat sibuk dengan tugas-tugasnya selaku customer service di sebuah perbankan syariah, di Jakarta saya juga mengetahui kalau isteri saya akan tinggal sendiri di rumah karena Siti akan kembali ke Lampung. Rasaya menunda satu hari atau beberapa hari layak dikorbankan untuk kepuasan batinku. Meskipun yang saya rasakan justru sebaliknya, semakin lama saya berdiam di Jakarta semakin hampa yang kurasa. Beberapa text book yang sengaja saya bawa dari Jogja pun tidak tersentuh.

Jumat pagi jam 05.00 saya bergegas mandi dan sholat. Sejak kemarin saya sudah beritahu isteri kalau saya harus diantar lebih pagi ke Stasiun Senen karena harus antri tiket penjualan langsung yang mungkin masih bisa mendapatkan tempat duduk. Tapi dari mulai bangun yang jam 05.00 saya mengetahi kalau sayapun masih malas untuk kembali ke Jogja. Tambah lagi isteri yang harus make up terlebih dahulu, sampailah pada jam 05.30 masih di rumah, padahal jarak waktu antara rumah dan stasiun senen sekitar 45 menit. Motor belum dipanaskan, belum pamitan juga ma ortu dan belum sarapan juga. Rasanya kacau, dari rumah sudah mulai merasa tidak nyaman. Jam 05.45 motor saya pacu, berusaha secepat mungkin dan berhasil sampai stasiun tepat pukul 06.35. Segera saya antri tiket dan di depan loket tiket ada tulisan pengumuman yang bertulisakan "tiket tanpa tempat duduk". O..o..., langsung lemes deh. Seharusnya saya sudah mengetahui sejak awal konsekuensi ini, tapi kenapa juga saya tidak segera merima. Dengan berat hati saya beli tiket tanpa tempat duduk tersebut dan membeli koran untuk antisipasi duduk di border kereta. Jadi inget masa kuliah di fakultas hukum sekitar 14 tahun silam. Dulu saya tidak peduli dapat tiket atau tidak dapat tiket, dapat tempat duduk atau tidak dapat tempat duduk, ga ada kamus harus ngantri tiket jauh-jauh hari sebelum hari H, yang penting beli koran untuk tidur di sela-sela bangku, itu sudah sangat nikmat. Tapi kenikmatan itu tidak bisa saya rasakan sekarang. Mungkin kendala terbesar orang yang terbiasa hidup enak adalah merasakan kesusahan dan kepayahan, atau mungkin saya sekarang menjadi orang yang kurang sabar dan berserah atau bahkan sekarang saya menjelma menjadi orang yang sulit menerima kenyataan dan berada dalam kehidupan sempurnanya keinginan. Astaghfirullah...

Saya melihat Stasiun Senen yang padat dengan travelers. Hal itu sangat wajar, bulan Juli kan bulan liburan siswa SD s.d mahasiswa Perguruan Tinggi. Saya ikut mengantri dan berdesakan memasuki kereta. Dari kejauhan saya melihat beberapa orang yang membeli tiker, mungkin nasibnya sama seperti saya dan ternyata benar. Mereka orang-orang yang tidak mendapatkan tempat duduk. Setelah menaruh tas, dan menggelar tiker di border, kami langsung duduk di atas tiker tersebut. Mudahnya saya duduk di atas tiker spontan membuat saya ingat pada satu hal, HP Samsung SGH i780 yang saya taruh di saku celana depan saya. Harusnya ketika duduk ada yang terasa mengganjal, ini sepertinya tidak ada, langsung saya periksa seluruh saku celana saya, dan ternyata memang HP saya sudah berpindah tangan. Baru kali ini saya tidak merasakan sama sekali kalau diri saya di copet, biasanya baru melihat muka saja saya sudah bisa merasakan orang-orang yang punya niat tidak baik alias copet. Delapan jam di kereta tanpa alat komunikasi rasanya berat, mungkin saya termasuk orang yang sudah kecanduan HP dan ini merupakan teguran dari Allah.



Selamat tinggal HP Samsung SGH i780, selamat jalan Pocket PC. Semoga di pengguna mu yang baru kau lebih dioptimalkan...
Sore kemarin, selasa tanggal 21 Juni 2011 saya mulai packing dan bersiap-siap untuk kembali ke jogja. Hal itu menjadi harus karena rabu jam 10.00 saya harus mengikuti mata kuliah financial accounting yang diampu oleh Ibu Wiwin. Beberapa buku yang semula saya bawa dengan niat untuk dibaca di Semarang selalu kandas, selalu saja kalau sudah sampai rumah, saya merasa saatnya instirahat dan leyeh-leyeh. Berlalulah tiga hari dua malam di rumah mertua tanpa ada penambahan literatur. Biasanya kami berdiskusi dan ngobrol ngalor ngidul, terutama dengan umi yang suka sekali kajian Islam dan dinamikanya sedangkan abah sesekali berbicara tentang pengalaman kantornya dan kebanggaan dirinya kalau beliau sekarang jadi ketua raskin padahal menjelang pensiun, he he he. Yang luar biasa dari mereka adalah setiap jam 3 subuh atau maksimal jam 3.30 subuh saya selalu mendengar mereka tengah sibuk di ruang sholat dengan aktivitas ritualnya, sholat tahajud bersama. Setelah itu mereka ambil posisinya masing-masing, umi meneruskan dengan muroja'ah hafalan qur'annya yang 30 juz, sedangkan abah men dawam kan surat yasin dan beberapa surat-surat pendek di luar kepala. Mereka telah menjelma menjadi makhluk spiritual, kata umi "malu sudah dikasih nikmat yang banyak kok malah minta terus, disukuri aja masih tidak sanggup". Kalau saya sih belum mampu seperti mereka, tapi saya ingin bisa seperti mereka. Saya baru bisa konsisten dengan agenda saya untuk mengunjungi saudara yang lahiran, lala dengan anak kembarnya, dan melepas kangen dengan keluarga genuk sudah saya penuhi. Jadi saya tidak merasa terlalu menyesal.



Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, sudah tidak boleh ditunda lagi, segera saya masukkan text book ke tas saya, disusul dengan beberapa pakaian kotor (sengaja biar tidak ngerepotin mertua), kemudian gadget gadget kecil dan yang terakhir laptop. Rasanya sudah semua masuk tas, tinggal berangkat. Sebagaimana biasanya, sore hari umi masih di warung, depan pasar genuk dan saya harus berpamitan kepadanya. Kunci motor, STNK naufal sudah saya kembalikan, kunci rumah juga sudah saya serahkan, ketika saya mau salim istilah untuk cium tangan, dia selalu menjawab "tunggu sebentar man", lalu dia menuju toko klontong adiknya, mbak jazil, mengambil beberapa barang dan dimasukkan ke dalam kantong plastik hitam.


dan isinya selalu sama, berisi (a) beberapa minuman, (b) wafer dan (3) yang lucu selalu ada tambahan 2 buah taro. Mungkin saya dikira Habib yang masih doyan chiki-chiki-an. Namanya juga pemberian orang, ketika kita menerima dan bermuka antusias, pasti yang memberi sangat senang. Menyenangkan orangkan bagian dari ibadah. Hasilnya setiap pulang selalu saja ada kantong plastik hitam berisi:


Mau????
Selasa, 21 April 2011
Rumah mertua yang berada di Jalan Sentono selalu nampak sepi. Wajar karena penghuni rumah ini cuma tinggal abah dan umi saja. Anak pertamanya, Abdul Razak Naufal bekerja di Pengadilan Agama Kudus, anak keduanya, Luluk Arifatul Khorida yang sekarang sebagai isteriku bekerja di BSM KCP Gajah Mada Jakarta Pusat, dan yang terakhir Habiburahman masih mondok di Pesantren Gontor Ponorogo. Setiap kali saya berkunjung ke Semarang selain pemandangan sepi juga dijumpai kondsi yang agak berantakan dan sedikit kotor pada rumahnya. Miris, kasihan merasa bersalah kadang menyelimuti diri saya. Rasanya saya pun turut andil menciptakan kondisi seperti itu karena anak wanitanya sudah saya bawa ke Jakarta. Ketidakberdayaan saya kadang menjadi justifikasi dan penawar perasaan bersalah saya pada mereka. Saya yakin mereka merasa kehilangan, tapi apakah semua orang tua harus mengalami fase yang demikian, fase ditinggalkan oleh buah hatinya dan merasa kesepian seraya berkeluh kesah alangkah lebih baiknya dahulu, ketika anak-anak masih kumpul dalam satu rumah yang sama, rumah kecil dan disesaki oleh seluruh pola dan tingkah laku anak-anaknya. Mungkin orang tua saya pun merasakan demikian.

Jangan berpikir terlalu jauh, jauhnya pikiran tidak menghasilkan sebuah tindakan, tapi setiap tindakan harus didasari oleh alasan yang keluar dari pikiran yang matang. Kesimpulan saya, saatnya bersih-bersih, karena tindakan itu bisa saya lakukan, di dapur tersedia sapu, pel, super pel aroma apel. Setelah minum hemaviton stamina plus, saya mulai menyapu lantai, yang paling kotor daerah meja makan dekat pintu, mungkin karena banyaknya tiupan angin yang membawa debu dari luar, yang kedua terkotor adalah kolong tempat tidur saya dan isteri (kamar no.2), sayangnya baik sapu dan pel tidak bisa menjangkau seluruh bagian kolong tempat tidur tersebut. Mulai dari ruang tengah, ruang keluarga, ruang tamu, ruang ibadah, teras depan, teras samping, dapur sudah selesai disapu dan dipel. Rasanya cukup puas, dan sudah saya coba tiduran di lantai, hasilnya sudah cukup nyaman kok...

Lakukan yang bisa kamu lakukan, jangan terlalu panjang berfikir sehingga tidak cukup punya energi ataupun kemauan untuk melakukan sesuatu yang lebih konkrit dan bermakna. Ketahuilah, bahwa seluruh entitas kehidupan, makhluk apapun akan berusaha memberikan arti dan makna melalui simbol. Karena manusia tidak bisa menangkap konsep yang terlalu luas dan holistik maka dia membutuhkan contoh yang konkrit. Memberilah, karena eksistensinya manusia diwujudkan dengan pemberian. Pemberian itu adalah simbol eksistensi dan wujud konkrit dari keberadaan dirimu. Esensinya lakukan itu dengan ikhlas. Keikhlasanlah yang sanggup menembus dinding dingding hati dan bersemayam pada hati nurani. Ketika nurani bertemu maka terciptalah simfoni persaudaraan nan fitri.