Pada hari sabtu, tanggal 8 Oktober 2011 saya dan isteri janjian dengan salah seorang teman saya, Abdul Basyir Hamim beserta isterinya, lebih tepatnya isteri saya yang janjian karena ada urusan bisnis kecil-kecilan, obat herbal. Kita bertemu di Blok M Square setelah ashar dan transaksipun berlangsung dalam waktu yang relatif singkat. Obrolan santaipun akhirnya mengalir dan sampai pada tema anak dan keturunan. Memang harus saya akui, kami pun selaku pasangan yang sudah tiga tahun belum dikaruniai momongan rasanya sudah sangat merindukan kehadiran bayi mungil di tengah-tengah kami. Hingga tahun ketiga inipun kami belum melakukan medical care, kami masih memilih untuk tetap sabar dan tawakal menunggu sambil mengkonsumsi obat-obat herbal. Terlebih usia isteri saya yang masih relatif muda, 25 tahun pada tahun ini. Tapi saran dari Basyir untuk datang ke Po Cece selaku ahli pengobatan alternatif spesialis bagi orang yang kesulitan punya anak menjadi pertimbangan yang langsung kami diskusikan pada malam harinya. Keputusannya besok kita harus mencoba.
Pada hari minggu tanggal 9 Oktober 2011, setelah selesai semua urusan, kamipun bergegas menuju kediaman Po Cece. Melalui petunjuk sms dari Basyir yang berisikan alamat Po Cece di Jl. Pancaron Barat (Duren Tiga), ikutin mikrolet 42, sampai di Indomart yang berhadapan dengan Alfamart terdapat gang menuju Sekolah Menengah Pertama 28 Oktober. Dengan beberapa kali bertanya kami pun sampai di rumah Po Cece. Sesampainya di rumah, saya tidak menyangka kalau rumahnya sangat biasa dan hampir tidak terkesan bahwa rumah tersebut sebagai tempat untuk melakukan medical alternatif, karena di sana tidak ada kamar praktik yang khusus untuktreatment kepada pasien. Tidak lama menunggu, akhirnya keluarlah wanita yang sepertinya sudah tua, tapi dari mukanya tampak segar dan bersih. Aksen betawinya sangat kentara (kalau mau pakai gaya betawi), dia langsung bertanya "dari siapa tahu di sini?", kamipun spontan jawab "dari teman, Abdul Basyir dan isterinya, Ria yang kemarin datang juga ke sini". "Oh...mang dah berape lame belum hamil-hamil?", kita jawab "tiga tahun", "kok seperti masih orang pacaran...". Kitapun tersipu-sipu. Diapun langsung meminta kami untuk masuk ke kamar, ada sebuah kamar di depan lengkap dengan tempat tidurnya, dia pun meminta isteri saya berbaring dan meminta saya untuk membeli sebotol air aqua (air yang mudah dibawa pulang). Kebetulan di samping rumahnya ada warung kecil yang jual air mineral, jadi tidak perlu pergi jauh untuk mendapatkan air mineral tersebut.
Sambil mengurut, dia memperkenalkan dirinya kalau nama sebenarnya adalah Ibu Aisyah, 71 tahun. Subhanallah, sudah 71 tahun tapi masih terlihat sehat dan bugar. Setelah mendiagnosa dia bilang kepada isteri "peranakannya bagus, cuma miring aja, jadi kalau sudah campur, akan keluar lagi. wah bakal punya banyak keturunan ini, rahimnya panjang". Saya sendiri kurang begitu faham, itu mungkin istilah buat dia saja. Lalu dia bilang juga kalau di sini sudah ratusan orang-orang yang berhasil, tapi semua itu rezeki-rezekian termasuk orang Australia yang datang kerumahnya untuk memperoleh keturuan. Terus saya spontan bertanya, "kok orang Ausralia sampai tahu?" Kan di sini sudah terbiasa diliput sebagai pengobatan alternatif bagi orang-orang yang kesulitan mempunyai keturunan...Ooohhhh...Setelah isteri saya selesai, giliran saya yang diperiksa kecukupan sperma dan kualitasnya, dia bilang "Bagus, malah banjir". Setelah selesai semua, diapun mendoakan air mineral yang baru saja saya beli, dan dia bilang "diminum berdua ya!, dan datang lagi bulan Oktober ya, itu sudah hamil"...Kitapun terdiam dan spontan mengucapkan "Amiiin". Kok bisa yakin sekali Po Cece itu, padahal saya tinggal di Jogja, isteri di Jakarta, interaksi dan keintiman kita memang agak sedikit berkurang, dan mencari waktu yang tepat pun jadi lebih sulit. Semoga semua bukan menjadi alasan untuk memperoleh keturunan. Allah Maha Tahu dan Maha Pemurah, bila memang sudah saatnya amanah itu dipercayakan pada kami, maka kamipun selaku yang dipercaya akan merawat dengan sebaik-baik usaha kami.
Setelah selesai semua, ketika kami keluar ternyata sudah terdapat beberapa orang yang mengantri di ruang tamu, dan saya melihat ada yang sedang hamil besar, ada yang sudah punya anak, macam-macam deh. Sambil keluarpun saya sempatkan diri bertanya, "kemarin juga susah punya anak ya?" Lalu dia jawab "Saya tahun ke dua belum punya hamil juga, setelah datang ke sini, eh bisa hamil"."Alhamdulillah..."






